Liffham’s Weblog


Dan Jessica pun berSyahadat menerima Islam
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Mualaf

Kisah Mualaf Kisah A to Z

Hari Sabtu, 14 Oktober lalu, dilakukan buka puasa dengan mengundang tetangga-tetangga non Muslim di Jamaica Muslim Center, salah satu mesjid yang saya pimpin di kota dunia ini. Acara ini kami namai “Open House Iftar”. Memang unik, karenanya asumsinya buka puasa itu adalah mengakhiri puasa yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tapi sore itu, justeru hadir bersama di antara lima ratusan Muslimin di Jamaica Muslim Center puluhan non Muslim dari kalangan tetangga.

Menjelang buka puasa itu saya tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang murid saya yang baru masuk Islam seminggu menjelang bulan puasa. Namanya Carissa Hansen. Beliau yang telah saya ceritakan proses Islamnya terakhir kali. Bersama beliau juga datang seorang gadis belia yang nampak sangat muda. Dengan jilbabnya rapih, saya menyangka dia seorang gadis Libanon atau Palestina.


Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, gadis tersebut memperkenalkan diri dengan malu-malu. “Hi, I am Jessica”. Tentu dengan ramah saya balas sapaannya dengan “Hi, how are you? Welcome to our event!”.


Tiba-tiba saja Carissa menyelah bahwa Jessica ini ingin sekali tahu Islam. Rupanya Jessica bekerja merawat orang-orang “handicapped” (cacat) di kota New York. Dalam salah satu kelas khusus bagi orang-orang cacat inilah, Jessica bertemu dengan Carissa yang baru sekitar 2 minggu masuk islam. Carissa yang memang bersemangat itu menjelaskan kepadanya siapa dia dan Islam yang dianutnya.


Setelah berkenalan beberapa saat saya ketahui kemudian bahwa Jessica ini berayah seorang Muslim keturunan Suriah tapi beribu Spanyol. Namun demikian, selama hidupnya belum pernah belajar Islam. Menurutnya, ayahnya memang orang Suriah tapi dia tidak pernah mengajarnya bahasa Arab (barangkali dimaksudnya Islam). Bahkan (maaf) dia menggelari ayahnya “Cassinova”, yang awalnya saya sendiri tidak tahu artinya. Ternyata dia menjelaskan bahwa “cassinova man” itu adalah seseorang yang “dating many women at the same time”. Menurut Jessica lagi, ayahnya kini sakit keras. Punya lima anak dari 5 ibu yang berbeda.


Oleh karena memang ayahnya tidak melakukan ajaran agama, apalagi mengajarkan anaknya agama Islam, Jessica sendiri merasa lebih Katolik mengikuti agama ibunya. Oleh karenanya, walaupun tidak ke gereja, dia merasa ada ikatan dengan agama Katolik ibunya.


Sore itu, setelah bertanya beberapa hal, tiba-tiba saja dia menyelah “I think this is the right religion to follow”.


Saya kemudian menjelaskan lebih detail mengenai islam dan dasar-dasar Iman. Alhamdulillah, bersamaan dengan acara buka puasa hari itu saya tuntun Jessica mengucapkan syahadah “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasulullah” diringi pekik takbir kaum Muslimin yang sedang mencicipi buka puasa.


Beberapa hari kemudian saya tanya “did you tell your family regarding your Islam? “ Dian menjawab “not yet, but studying doing my prayer secretly”. Ketika saya tanya apakah Bapaknya juga belum tahu kalau dia Muslim? Dia mengatakan bahwa “my father does not want to know that”. Saya tanya kenapa? Dia bilang “If he knows he will be embarrassed being a Muslim but never told us about his religion”. Saya hanya mengatakan “astaghfirullah”.


Kini Jessica rajin mengikuti acara-acara ceramah atau pengajian saya. Pada hari Raya yang lalu Jessica ikut kami sekeluarga keliling silaturrahim ke berbagai rumah. Begitu senangnya hingga berkata: “I never experienced such a wonderful day”.


Jessica termasuk anak yang gagal sekolahnya. Ketika berumur 16 tahun terpaksa menikah karena hubungannya dengan seorang pemuda. Dia tidak menamatkan SMA sekalipun. Setelah menikah ternyata dia menjadi bulan-bulanan suami yang pemabuk dan bahkan pengkonsumsi narkoba. Perkawinan itupun tidak berumur panjang. Sejak itu pula, ayah Jessica mengalami penyakit jantung kronis dan kesehatannya semakin menurun. Maka dengan sendirinya hanya ibunyalah yang mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Inilah yang mendorong Jessica kemudian untuk bekerja membantu sang ibu.


Kini Jessica bertekad untuk kembali belajar dan bercita-cita untuk menjadi perawat. Alasannya karena dia senang membantu orang lain. Dua hari lalu Jessica menelpon saya memberitahu bahwa dia berjuang untuk shalat di rumahnya. “I feel it’s not clean, and my brother is laughing at me when he sees me doing it”. Saya terkejut karena saya kira Islamnya masih dirahasiakan. Ternyata menurutnya, semua sudah tahu kecuali ayahnya. Dia masih sungkan memberi tahu ayahnya karena menurutnya jangan sampai tersinggung sedangkan dia sekarang ini sakit keras.


Saya ingatkan Jessica “jika kamu berhasil menyadarkan ayahmu sebelum meninggal, maka itu pemberian yang paling berharga dari seorang anak kepada seorang ayahnya”. Jessica hanya tersenyum secara berucap “I hope so. Pray for me!”


Semoga Allah selalu menunjuki jalanmu Jessica!

New York, November 2, 2006, M. Syamsi Ali, Penulis, adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.   yang juga  penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com

  •  Tahukah Anta :
  • Orang yang mualaf ibadahnya lebih juhud ( benar-benar ibadahnya ) dari oorang islam keturunan *


Meneladani Allah Sebagai Al-Haadi’ (Hidayah Allah)
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Asmaul Husna

Rukun Islam Asmaul Husna

Kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah agama. Karena, hidayah inilah yang akan membuat akal memuliakan kita. Hati akan cemas ketika kita berjalan di lorong gua yang gelap. Hati pun akan cemas ketika kita berjalan di belantara yang masih asing. Begitupula kalau tersesat, hati kita akan cemas, walau tersesatnya di Masjidil Haram.

Namun, akan beda rasanya bila kita berjalan di gulitanya malam dan ada yang menuntun, terlebih bila yang menuntun tersebut sangat tahu medan dan ingin menyelamatkan kita, hati akan tenang. Ketika kita masuk ke sebuah kota dengan disertai seorang pemandu ahli, maka hati kita pun akan tenang. Apa yang dimaksud dengan petunjuk jalan? Ia adalah yang tampil ke depan memberi petunjuk. Mereka ini disebut haadi. Salah satu asma’ Allah adalah Al-Haadi atau Allah Yang Maha Memberi Petunjuk. Kata yang terdiri dari huruf “ha”, “dal”, dan “ya”, memiliki makna “tampil ke depan memberi petunjuk”. Tongkat disebut haadi karena tongkat biasanya lebih depan daripada kaki. Arti kedua adalah “menyampaikan dengan lemah lembut”. Dari sini lahirlah kata “hadiah”, karena hadiah disampaikan dengan lemah lembut. Pengantin wanita disebut juga al-haadiyu’, karena ia menjadi “hadiah” yang lembut bagi suaminya. Jadi, kalau dikaitkan dengan Allah Al-Haadi; Allah Yang Maha Memberi Petunjuk bermakna bahwa Allah bisa memberi petunjuk dengan sangat lemah lembut sehingga tidak dirasakan oleh orang yang mendapatkan petunjuk tersebut. Hidayah Allah
Hidayah (petunjuk) yang diberikan Allah kepada manusia bermacam dan bertingkat-tingkat bentuknya. Hidayah tingkat pertama disebut insting atau naluri. Contohnya seorang bayi akan langsung menangis ketika dilahirkan. Ia bisa menangis bukan kerena belajar, tapi refleks hingga ia mendapatkan air susu yang dibutuhkannya. Namun, naluri tidak didesain untuk memecahkan persoalan. Oleh karena itu, Allah SWT memberi hidayah tingkat kedua, yaitu panca indra. Inilah hidayah Allah yang membuat kita bisa melihat, mendengar, merasa, dan mendapatkan banyak informasi. Panca indra membuat kita mampu mengambil sikap dengan baik. Sayangnya, indra ini tidak selamanya benar dan akurat. Misal, kayu yang lurus akan kelihatan bengkok di air, rel kereta api ujungnya seperti bersatu, pelupuk mata yang paling dekat dengan mata tidak mampu kita lihat. Sangat dekat tidak terlihat, demikian pula kalau jauh tidak terlihat. Intinya, indra tidak selalu mampu memberitahukan informasi yang paling benar. Di atas panca indra, ada hidayah tingkat ketiga yaitu akal. Akal adalah hidayah istimewa yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia yang tidak diberikan pada binatang. Rel kereta api terlihat bersatu dengan panca indra, tapi tidak bersatu menurut akal. Dengan akal kita bisa menganalisis dengan baik, melihat dengan cermat, dan mengambil keputusan dengan lebih tepat. Walaupun demikian, akal sering disalahgunakan. Orang bisa “efektif” melakukan kejahatan karena menggunakan akal. Karena itu, kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah keempat, yaitu hidayah agama. Hidayah inilah yang menjadikan akal memuliakan manusia. Yang pintar banyak, tapi yang pintar sekaligus benar adalah hidayah paling mahal. Hidayah agama pun bertingkat-tingkat bentuknya. Dari mulai hidayah berupa pengetahuan tentang Islam, lalu hidayah berupa kemampuan untuk mengamalkan Islam, dan hidayah yang menjadikan hati kita selalu terpaut kepada Allah ketika beramal (keikhlasan). Inilah hidayah yang paling tinggi dan paling mahal hargaanya. Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tidak seorangpun yang memiliki hak memberi hidayah pada orang lain, tanpa seizin Allah. Mungkin timbul pertanyaan, untuk apa kita berdakwah? Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan. Karena itu, jalan hidayah bisa bermacam-macam bentuknya, ada yang lewat ceramah, ada yang lewat VCD, SMS, acara televisi, dan lainnya. Dengan demikian kita jangan menganggap diri hebat karena telah mampu menyadarkan orang lain. Kita hanya sekadar perantara, hakikatnya Allah-lah yang memberi hidayah. Bagi kita, masalahnya bukan bagaimana agar orang lain bisa mendapatkan hidayah, tapi sejauh mana kualitas kebenaran yang disampaikan dan sejauh mana keikhlasan kita dalam menyampaikan kebenaran tersebut. Kedua hal tersebut adalah syarat utama bagi dalam meneladani Allah sebagai Al-Haadi’; Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk. Kita pun tidak akan mampu memberi petunjuk pada orang lain, bila kita tidak memiliki pengetahuan. Karena itu, meneladani Al-Haadi mengharuskan kita menjadi orang-orang yang berilmu dan gemar menjadi pengamal ilmu. Wallahua’lam bish-shawab. ( KH Abdullah Gymnastiar )

  •  Tahukah Anta :  
  • Cara berdo’a, supaya cepet terkabulkan apa apa yang kita iginkan ” yaitu bacalah Asmaul Husna 



Ar Rahman – Ar Rahiim
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Asmaul Husna

Rukun Iman Asmaul Husna:

Nama Allah yang terkandung dalam basmallah adalah Ar Rahman dan Ar Rahiim, sifat kasih sayang. Hikmah di balik nama tersebut harus kita fahami dengan baik. Semoga dengan mempelajarinya kita menyadari siapa Allah dan bagaimana kita meniru sifat-Nya. Yang disebut orang yang pengasih adalah orang yang selalu berniat memberi atau menolong orang lain dengan segenap kemampuannya. Sedang yang dimaksud dengan Ar Rahiim, sifat pengasihnya Allah, adalah pemberian yang melimpah terus menerus, terlepas dari apakah yang diberi tersebut membutuhkan atau tidak, bahkan layak menerima atau tidak.

Berbeda dengan sebagian besar manusia, kelemahan kita adalah baru mau memberi jika diberi atau karena mengharapkan sesuatu, misalnya mengharapkan pujian, penghargaan atau balas budi. Ciri kita masih tak ikhlas saat memberi adalah kecewa jikalau orang yang diberi tak balas budi atau tak mengucapkan terima kasih.

Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak. Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Mahasuci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita.

Berbeda dengan Ar Rahiim, Ar Rahman lebih tinggi daripada Ar Rahiim. Ar Rahman jangkauan kasih sayangnya meliputi dunia akhirat, sedang Ar Rahiim hanya duniawi. Sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah memberikan kasih sayang-Nya pada kita dengan menciptakan dan membentuk. Kemudian setelah tercipta, kita dituntun mendapatkan iman dan kebahagiaan dunia akhirat. Setelah mati, kita diberi peluang menatap-Nya di akhirat kelak.
Kita sering bertanya mengapa Allah memberikan sakit, kebangkrutan dan berbagai musibah? Bahkan kita juga sering bertanya mengapa tak sedikit orang yang rajin beribadah tapi tetap terkena musibah?

Camkan baik-baik, tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Keburukan yang ditimpakan kepada kita pasti berisi kebaikan di dalamnya.

Ketidaksabaran dan ketidakmampuan kita memahami hikmahlah yang membuat seolah kejadian itu buruk. Dengan kedalaman iman kita dapat menembus keyakinan bahwa tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Ambil contoh, seorang anak tertusuk duri hingga harus diamputasi.

Diamputasi tangan adalah suatu keburukan, tapi jika tak diamputasi ia akan tetanus dan bila penyakitnya makin kronis tubuhnya akan hancur. Diamputasi bukanlah suatu keburukan walau tubuhnya tersakiti dan sebagian tangannya hilang. Disakiti untuk kebaikan tetap kebaikan.

Karenanya, janganlah kita menjadi sengsara karena bencana yang menimpa hingga menyangka bahwa Allah tak sayang pada kita. Bila terjadi sesuatu pada diri kita yang tampaknya seperti keburukan, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa berniat berbuat baik kepada hamba-Nya.

Ibarat anak yang diamputasi tadi, sang orang tua mengamputasi bukan karena ingin menghilangkan tangannya, tapi justru untuk menyehatkannya. Begitupun, aneka cobaan dan masalah dalam hidup ini sesungguhnya merupakan kasih sayang Allah untuk keselamatan kita.

Hikmah utamanya adalah kita tak boleh su’udzan di balik sepelik apa pun masalah yang menimpa karena pasti tersimpan niat baik dari Allah untuk kita dan pasti tersimpan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita anggap buruk.

Hikmah lainnya adalah kita harus meniru sifat kasih sayang Allah ini. Seorang Muslim yang mengikuti sifat kasih sayang Allah, dia akan peka terhadap orang-orang di sekitarnya yang berada dalam kesulitan. Dia terus melacak siapa yang membutuhkan pertolongan seraya menyediakan diri dan hartanya untuk menolong dengan segenap kemampuannya.

Jika tak mampu menolong, maka dia berusaha memfasilitasi untuk menjadi perantara pertolongan. Jika itupun tak berdaya dilakukannya, maka berempati dengan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang bisa meringankan bebannya. Jika itupun tak sanggup, maka dia berdoa di balik gelap malam tanpa sepengetahuan siapa pun karena dia sangat merindukan orang lain terlepas dari kemalangannya.

Inilah sebenarnya karakter seorang Muslim, selalu berfikir bagaimana menolong sesama dan melepaskan kemalangan orang lain. Jika hal ini ada pada diri kita, kita akan hidup penuh dengan kebahagian, bukan karena mendapatkan pertolongan, tapi karena kita bisa menolong orang lain.n stz/mqp ( KH Abdullah Gymnastiar)

  • Tahukah Anta :


Jatuh Cinta Pada Alquran
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Hikmah:

Diriwayatkan bahwa Abdullah ibn Mas’ud RA melewati wilayah Kufah. Di tengah perjalanan, sahabat Nabi Muhamamd SAW itu melihat beberapa orang pemuda yang sedang duduk-duduk dan bermabuk-mabukan. Di antara mereka adalah Zadzan al-Kindi (seorang artis) yang mampu memainkan alat musik dan melantunkan lagu-lagu. Suaranya sangat merdu dan syahdu


Abdullah ibn Mas’ud tertegun. Sambil melewati sekumpulan pemuda itu, Abdullah berkata, ”Alangkah indahnya suara itu seandainya dipergunakan untuk membaca Alquran.”


Tak dinyana, perkataan Abdullah itu didengar Zadzan. Ia pun berdiri dan mengambil sebatang kayu lalu dipukulkannya ke bumi kuat-kuat sehingga batang kayu itu patah. Setelah itu, ia segera menemui Abdullah ibn Mas’ud sambil menangis. Maka, Abdullah pun merangkulnya dan keduanya sama-sama menangis.
”Aku pantas menangis di hadapan orang yang dicintai Allah,” kata Abdullah kepada Zadzan. Sejak peristiwa itu, Zadzan al-Kindi memutuskan berguru pada Abdullah untuk mempelajari Alquran. Di akhir hayatnya, Zadzan yang tergolong artis itu termasuk seorang tabiin yang banyak meriwayatkan hadis Nabi Muhammad dari Abdullah ibn Mas’ud.

Demikian sepenggal kisah Zadzan al-Kindi sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisy dalam Mukhtasharu Kitab al-Tawabin. Semoga bulan Ramadhan, bulan diturunkannya kitab suci Alquran, kita bisa menyambutnya dengan hati dan pikiran suci, agar meraih Lailatul Qadar, malam nan agung yang sanggup menerangi jalan hidup kita. Kita mohon perlindungan pada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang mengunci pintu hatinya dari kehadiran cahaya Illahi. ”Apakah mereka tidak memerhatikan Alquran, ataukah hati mereka telah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu, jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS Muhammad [47], ayat 24-25).

Orang yang mengunci atau menutup hatinya adalah pangkal dari kufur, yang keduanya memiliki makna sama, yaitu mereka yang menutup dan berpaling dari cahaya kebenaran Illahi. Mengingat hati (qalb) memiliki sifat labil, bolak-balik, maka seorang mukmin senantiasa diajarkan untuk berta’awudh, mohon perlindungan pada Allah dari bisikan dan godaan setan. Lebih dari itu, siapa pun yang senantiasa membaca Alquran dan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, insya Allah hati kita akan selalu tersambung untuk menerima cahaya kasih dan hidayah-Nya.

  • Tahukah Anta
  • Kalau membaca Al-quran itu akan menerangi hati dan menerangi anda di akhir hayat .




Menabung Pulsa
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Tausiyah Aa Gym:

Ada satu kata yang sangat sentral dalam Islam, yaitu takwa. Tak kurang dari 208 kali Allah SWT menyebut kata takwa dalam Alquran. Apa ciri-ciri orang bertakwa? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.


Setidaknya ada tiga ciri orang bertakwa. Pertama, ridha terhadap perintah Allah, seberat apa pun perintah tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjalankannya, tentu sesuai kemampuan, walau nafsu tidak menyukainya. Kedua, ridha terhadap larangan Allah, senikmat apa pun larangan tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjauhinya, walau nafsu sangat menyukainya. Ketiga, ridha terhadap apa pun yang Allah takdirkan kepada dirinya. Tidak berkeluh kesah, berputusa asa, serta berburuk sangka. Ridha di sini bukan berarti apatis. Ridha di sini adalah kesiapan hati menerima apa pun ketentuan Allah, serta berusaha optimal untuk mendapatkan takdir terbaik.


Saudaraku, kita tidak akan pernah mencapai derajat takwa tanpa memiliki kesungguhan untuk berproses, berlatih dan meminta kepada Allah. Namun semua itu tidak berarti jika Allah tidak memberikan kuncinya kepada kita. Apa kuncinya? Ilmu. Ya, ilmu adalah kunci pembuka pintu gerbang ketakwaan. Ilmu adalah landasan semua amal. Sangat sulit mengetahui mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang Allah, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Karena itu, salah satu tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba, menurut Rasulullah SAW adalah dikaruniainya kepahaman terhadap ilmu, terutama ilmu agama. Dengan ilmu tersebut ia bisa mengenal Allah, mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak, sehingga hidupnya lebih tertuntun.


Ketika kita bersungguh-sungguh menggapai tiga ciri ketakwaan tersebut, optimal dalam beramal dan menjauhi maksiat, serta senantiasa tawakal dengan landasan ilmu, maka Allah akan mengaruniakan kekuatan ruhiyah kepada kita. Saya mengibaratkannya dengan pulsa telepon seluler. Amal kebaikan yang kita lakukan bagaikan penambahan pulsa dan penambah kekuatan sinyal. Sedangkan amal keburukan atau maksiat adalah pengurangan pulsa dan pelemah sinyal. Semakin banyak amal saleh, semakin bertambah pula pulsa serta kekuatan sinyal. Kita pun akan semakin leluasa berkomunikasi bahkan bisa mentransfer pulsa kepada orang yang membutuhkan. Sebaliknya, semakin banyak maksiat, semakin defisit pulsa kita. Akibatnya, semakin sulit kita berkomunikasi.


Yang menarik, ketika kekuatan ruhiyah (pulsa) kita bertambah, Allah Azza wa Jalla pun akan mengaruniakan aneka bonus menarik. Setidaknya berupa lima hal. [1] Allah akan memasukkan ketenangan serta kedamaian ke dalam hati kita. Resah gelisah dan kesempitan hidup akan dijauhkan dari kita. [2] Kita akan lebih terpelihara dari berbuat maksiat. Orang yang memiliki kekuatan ruhiyah, memiliki rek yang pakem dari berbuat maksiat sekecil apa pun. Setan pun tidak akan mempu menggelincirkannya. [3] Kehadirannya membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.


Tingkah lakunya membawa kebaikan. Ucapannya sedikit, namun powerfull, menggugah dan mengubah. [4] Allah memberinya kemudahan dalam beramal. Orang yang kuat ruhiyahnya memiliki energi yang sangat besar dalam beramal saleh. Apa yang disukai Allah akan ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Ibadah-ibadah wajibnya senantiasa ia hiasi dengan ibadah-ibadah sunnah. Ia pun kecewa berat jika tertinggal dalam berbuat taat. [5] Doanya mustajab. Sangat wajar jika doa-doanya diijabah, sebab ia memiliki pulsa berlimpah serta sinyal yang kuat, sehingga kontaknya kepada Allah bebas hambatan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang bertakwa, yang dikaruniai pemahaman agama serta kekuatan ruhiyah yang mantap. Amin.
( KH Abdullah Gymnastiar )
  • Tahukah Anta :
  • Menabung amal sejak dini akan membawa kita ketentraman di akhir hayat .





Cahaya Kalbu
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Assalamu’alaikum Wwb.

Saudaraku fillah,
Lihatlah detik kian berlalu, hari-hari berganti siang dan malam ,matahari terus bersinar tiada bosan dan bumi pun berputar pada porosnya tiada henti, bulan dan bintang tak jemu menghiasi keindahan malam hari, semua itu berjalan atas ketentuan dari ilahi dan akan terus berjalan sampai batas waktu yang ditentukan-Nya.

Saudaraku yang kucintai,
Beranjak dari kehidupan ini, manusia lahir dan tumbuh berkembang, hidup kemudian mati sesuai kodrat Allah yang Maha Kuasa, yang kemudian menjadi catatan sejarah yang kadangpun manusia tiada belajar dari sejarah itu. Berapa banyak manusia yang menutup lembaran kehidupannya dengan sia-sia dan tiada guna di akhirat, berapa banyak pula kisah-kisah yang disodorkan kepada kita melalui kalam-Nya yang mulia, terkadang pun kita sebagai manusia lengah akan hal itu pula.
Kita sebagai khairu ummatin yang dilahirkan ke atas bumi, sebagai ummatun wahidah, sebagai penyeru ‘amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai mukmin yang mengharap keridhaan-Nya agar bisa memperoleh jannatunna’im, harus menyadari akan makna, hakikat, ibrah dari kehidupan yang singkat ini. Mukmin yang sejati, merasai hidup ini adalah perjuangan, penuh halangan dan rintangan, tetapi ia selalu tabah menghadapinya, ujian yang ia rasai hanyalah ia anggap nikmat dari-Nya bukan azab.

Saudaraku,
Kadangkala kita lengah akan hidup yang kita jalani, kadangkala tak berada di jalan yang lurus, sifat-sifat syaithani telah merusaki niatan kita, melemahkan azzam dan membelokkannya dari jalan yang lurus. Rasa iri, riya, dengki dan hasad telah menutupi hati kita dari kebersihannya untuk berjuang di jalan-Nya.
Semakin kotor hati kita, semakin pula kusam dan pekat hati kita, kegelapan yang ada menyertai. Dan cahaya ilahi pun sirna oleh kehitamannya. Nur itu yang menunjukki dan membimbing kita ke jalan lurus, sirna oleh kotornya hati kita.
Jika dahulu cahya itu menerangi kalbu kita, sehingga kita selalu tersenyum tatkala bertemu wajah dengan saudara seiman, tetapi lihatlah sekarang, cahaya yang sirna telah membuat hati kita hasad, bertemu saudarapun hanya cibiran
wajah yang terlihat.

Saudaraku karena Allah,
Jika cahaya itu juga menerangi kalbu kita, sehingga senantiasa kita rajin melaksanakan qiyamullail dan terasa nikmat tatkala kita bermunajah di malam yang sepi, sirnanya nur di hati membuat kita enggan melaksanakannya lagi
bahkan kita merasa berat. Kita merasa sudah melaksanakan kewajiban 5 waktu, walaupun telat, sunnah tak perlu kita lakukan lagi. Masya Allah.
Kotornya hati telah membuat malas untuk beribadah, untuk tilawah, untuk shaum sunnah yang selalu di anjurkan junjungan kita, Rasullah s.a.w. Do’a iftitah (pembuka) di dalam sholat kita, inna sholati wannusuki wa mahyaya
wamamaati lillahi rabbil ‘alamin (…sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam..) tak pernah terealisasi dalam hidup kita. Kita sering melanggar, melawan bahkan lupa mengingati-Nya.
Tapi kita tak mau disebut orang yang durhaka, munafik kepadaNya, lalu kita ini apa ? menyatakan janji tapi tak pernah menepati ?

Saudaraku,
Sirnanya cahaya di hati itu pula telah membuat kita sering melawan dan membangkang
kepada ibu, ayah kita. Mereka yang selama ini mendidik dan membimbing kita menjadi anak yang berguna, kini melawan. Kuasa apa kita ini, mereka kini semakin tiada berdaya dan lemah menghadapi perlakuan kita yang tiada benar di hadapan mereka. Ibu kita sering menangis, ayah kita semakin murung. Mereka sering bertanya dalam hati, anak yang telah dikandung selama -+ 9 bulan, kini tiada guna, anak yang telah disusui selama -+ 2 tahun kini membuang habis kasih sayang yang selama ini telah diberikannya.

Wahai saudaraku,
sirnanya cahaya telah membuat dan menjadikan kita seperti itu.

Saudaraku yang kucintai karena Allah,
Hari ini, marilah kita bertaubat, kembali kepada-Nya dan memohon ampun atas segala dosa dan kekotoran hati kita, mohon maaflah kepada ayah dan ibu kita, nyatakan kita cinta dan sayang mereka. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri.
Semoga jannatunna’im, haruman Raihan dan manisnya telaga salsabila kelak akan kita peroleh. amin. Hadiyanallah wa iyyakum ajmain. Afwan.

Wassalamu’alaikum Wwb.

Oleh .ridwan nawawi .



Cara Mudah Bersyukur
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Aa Gym Tausiyah Aa Gym:

‘Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Alnahl [16]: 18).

Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.

Bersyukur merupakan salah satu ibadah mulia kepada Allah yang mudah dilaksanakan, tidak banyak memerlukan tenaga dan pikiran. Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya. Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.

Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.

Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.”

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS Aldhuha [93]: 11).

  • Tahukah Anta :
  •  Nikmat yang tidak tersa sehari hari adalah : Berbicara,mengedipkan mata ,Mendengar , dan bayak lagi nikmat yang tidak terasa oleh diri kita. 




Mengikis Kesombongan
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Tausiyah Aa Gym

 Sahabat, merasa diri besar atau sombong adalah penyakit hati yang sangat membahayakan. Kita harus berhati-hati dengan penyakit ini. Karena sombong, setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk Allah selamanya.


Rosulallah SAW. Bersabda, ” Tidak akan masuk surga siapa yang didalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu” (HR. Muslim)

Allah benar-benar mengharamkan surga bagi orang-orang sombong. Sombong atau takabur hanya layak bagi allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Mahluk hanya sekedar menerima kemurahan dari-Nya.

Penyakit sombong bagaikan bau busuk yang sulit untuk disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat dan dirasakan.

Perhatikan penampilan orang sombong. Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan napas, senyum sinis, tutur kata, nada suara, bahkan senandunya pun benar-benar mununjukan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukan orang yang buruk perangainya.

Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap sombong, jika seluruh kabaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah kepadanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang dapat disombongkan. Atau kalau Allah berkehendak, dia bisa terlahir dengan otak minim. Apalagi yang bisa disombongkan? Kita begitu rendah dan lemah dihadapan allah.

Maka kita harus hati-hati mengahadapi penyakit hati ini. Langkah hati-hati ini bisa diawali dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rosulullah SAW. Bersabda, ”Sombong Itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” (HR. Muslim). Jika dalam hati kita ada satu atau kedua-duanya, maka kita akan masuk ke dalam deretan orang-orang sombong.

Bagaimana cara menghindari dari sikap sombong?

  • Pertama, mengetahui dan memahami ilmunya; apa dan bagaimana sombong itu, serta bahaya yang ditimbulkanya. Sadarilah, sifat sombong tidak disukai manusia, diakhirat mendapat siksa.

  • Kedua, menyadari kelemahan dan keterbatasan diri sebagai manusia.

  • Ketiga, berlatih untuk berlapang dada menerima kebenaran dari siapa pun.

  • Keempat, Berlatih untuk rendah hati dan tidak memandang rendah orang lain. Dihapan Allah semua orang sama, yang membedakan hanya ketakwaan.

  • Kelima, berdoalah agar kita dijauhkan dari kesombongan.

Wallahu a’lam. KH. Abdullah Gymnastiar (Copyright 2007, CyberMQ
 Tahukah Anta :
* Kesombongan itu akan membawa kita kejurang kehinaan *




Amal yang Tetap Bermakna
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori
Saudaraku, Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama ALLOH malah menghilang.

Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, “Ya ALLOH saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah”. Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya ALLOH saya ingin tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH”. Weker pun diputar, istri diberi tahu, “Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa“. Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Tahukah Anta 

Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah