Liffham’s Weblog


Situ Ciburuy ..:
Maret 20, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: kisahku

Situ Ciburuy adalah daerah pariwisata padalarang , yang sekarang mah dah jadi daerah Bandung Barat , dan 1 bulan kedepan akan ada pemilihan bupati bandung barat , setelah pemilihan Gubernur Jawa Barat .

Ari ceuk dina lagu mah ciburuy teh susah d pancing lauk na teh , tapi ari kata sepuh akang mah gini , orang yg datang ke situ sambil hiburan pasti susah mendapatkan ikan nya , tetapi kalou orang itu sangat membutuhkan ikan itu pasti mudah tuk di pancing na ‘ kan dulunya ada sejarahnya ” waktu itu ciburuy tuh bukan danau seperti sekarang ,asal nya mah kecil dan tempat nya tuh d sebut pamuruyan , nah datang lah orang orang belanda kesitu di gali hingga menjadi danau yg lumayan besar ,dan d jadikan lah situ dan nama nya tuuh Situ Ciburuy … dan luas natuh mencapai 40 hektaran lah klo ga salah mah ,tapi sekarang dah mengecil paling jadi 25 hektaran lah .. ,,

Nihh bait lagu situ ciburuy ..

Situ Ciburuy laukna hese dipancing

Nyeredet hate ningali herang caina

Duh itu saha nu ngalangkung unggal enjing

nyeredet hate ningali sorot socana

Yang artinya ya itu tadi. Situ Ciburuy ikannya susah dipancing. Hati berdesir melihat jernih air disana. Lirik seterusnya silahkan dicari sendiri artinya. Nah Situ Ciburuy ini, setelah saya lihat sih tidak jernih-jernih amat. Dan banyak tukang mancing yang mencoba memancing ikan di tepinya. Kelihatan dari tangkai pancingnya. Ya nyari ikan lah, kalo nyari belut kan namanya ngurek. Pasti orang-orang yang memancing itu sangat gigih. Udah tahu susah masih dipancing juga.

img_2957.jpgSitu Ciburuy terletak di sebelah sanaan dikit dari pintu keluar tol Padalarang. Tempatnya sepi. Tidak banyak tampak orang berkunjung kesana, kecuali pasangan yang pacaran, orang yang suka engga puguh-puguh ingin menyendiri dan kurang kerjaan seperti saya, dan beberapa anak-anak muda yang berpiknik di atas perahu. Membawa bekal makanan dan tertawa-tawa girang. Tukang perahu dan perahunya tidak banyak, hanya ada beberapa. Perahunya cantik. Bercat warna-warni menyolok dan memakai dayung. Jumlahnya kurang dari jumlah jari tangan saya.

Di tengah Situ Ciburuy ada pulau kecil dengan restauran makanan Sunda disana. Naik perahu dayung Rp 15.000 bolak-balik. Kalau mau pulang dari pulau itu, silahkan teriak-teriak atau bersuit memanggil perahu yang tadi mengantar. Ini harga tanpa nawar ya. Soalnya saya paling malas tawar menawar sebenarnya. Bertentangan banget dengan pekerjaan saya sehari-hari yaitu tukang negosiasi. Kalau di restauran ini jangan pesan yang aneh-aneh. Karena dari daftar menu, kebanyakan malah tidak ada. Pesanan makanan lama sekali. Tapi ikan bakarnya enak, ikan asin jambalnya mantap. Dan sambal dadakannya pedasnya bukan main. Lalapan segar juga ada. Kalau kurang bisa metik sendiri daun Pohpohan yang tumbuh liar di pinggiran danau.

Dari kejauhan tampak tebing Citatah yang sering dijadikan latihan panjat oleh orang-orang yang suka memanjat selain pohon. Perkampungan di seberang sana, dan bukit-bukit di sekeliling. Angin bertiup agak kencang, sehingga udara terasa segar dan dingin. Situ ini sih airnya kelihatan tenang sekali, nyaris tak berombak. Lega rasanya masih ada Situ yang tersisa di Bandung ini, dan masih berair pula! Tidak seperti Situ Aksan yang tinggal nama doang dan Situ Umar yang jadi sebesar kolam ikan (huh, masih kesal saja kalau ingat nasib Situ Aksan dan Situ Umar). Semoga Situ Ciburuy yang tercatat dalam lagu ini tidak mengalami nasib seperti Situ yang lain yang dijarah eh dikeringkan untuk keserakahan manusia.



Ngalokat di Ciburuy …:
Maret 20, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Bandung, Kompas – Ritual Ngalokat Situ Ciburuy pada Sabtu (29/7) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah akan pentingnya danau tersebut. Kemajuan danau ini masih terkendala masalah lingkungan dan pariwisata.

Masalah yang kini dihadapi Situ Ciburuy adalah pendangkalan air akibat eksploitasi air secara berlebihan. Itu terlihat dari sampah yang berserakan sehingga mengurangi keindahan, dan penataan ruang yang semrawut sehingga berpotensi membahayakan kondisi lingkungan di tempat tersebut.

Ketua Panitia Ngalokat Ciburuy Nana Munajat mengungkapkan, tujuan dari diadakannya ritual ngalokat atau membersihkan danau lebih kepada pembaruan semangat dari semua pihak yang terkait.

“Selain untuk memperbaiki lingkungan di Situ Ciburuy, ritual ini ingin mengembalikan fungsi danau ini sebagai ruang publik, khususnya untuk kesenian,” kata Nana, Sabtu.

Nana beralasan, desa-desa yang berada di sekitar Situ Ciburuy sebenarnya mempunyai kantong-kantong kesenian yang belum disatukan sehingga terkesan mubazir. Oleh karena itu, Situ Ciburuy diharapkan menjadi tempat bagi desa-desa di sekitar Situ Ciburuy yang jumlahnya sepuluh desa itu untuk berekspresi.

“Jangan sampai nasib Situ Ciburuy seperti Situ Umar yang kini tinggal nama karena rusaknya lingkungan sekitar,” ujar Nana. Bermasalah

Pengelolaan Situ Ciburuy juga menjadi masalah karena danau itu hingga kini dikelola tidak oleh satu pihak saja. Selain Dinas Pengairan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung juga terlibat.

Nana berharap, masalah kewenangan mengenai pengelolaan Situ Ciburuy bisa jelas dan satu atap. Jangan sampai penduduk sekitar hanya menjadi penonton.

Tokoh pemuda Situ Ciburuy Jhony A Baretta mengungkapkan bahwa yang diinginkan masyarakat dari pemerintah selain kembalinya keasrian Situ Ciburuy juga mengenai kejelasan retribusi yang ditarik dari pengunjung. “Kami hanya ingin tahu retribusi tersebut ke mana dan digunakan untuk apa,” kata Jhony. Dalam ritual ngalokat Ciburuy, diawali dengan arak-arakan kesenian yang berasal dari sepuluh desa, yaitu Desa Kertamulya dengan calung dan pencak silat, Desa Padalarang dengan nasyid, Desa Cimerang dengan rampak sekar, Desa Cempaka Mekar dengan calung bajidoran, Desa Tagog Apu dengan barongsai, Desa Ciburuy dengan reog Sunda, Desa Kertajaya dengan pencak silat, Desa Cipendeuy dengan silat mande, Desa Jaya Mekar dengan calung, dan Desa Laksana Mekar dengan debus. Membangun komitmen

Langkah selanjutnya setelah acara selesai, jelas Nana, adalah membangun komitmen antara masyarakat yang terikat ke Situ Ciburuy- seperti pedagang, penarik perahu-dan warga sekitar. Upaya untuk mengembalikan Situ Ciburuy sebelumnya sering terhambat karena masyarakat hanya jadi penonton.

Agenda berikutnya adalah mengembalikan sumber air Situ Ciburuy. Sebelumnya, situ ini mengandalkan air dari Sungai Cimeta, tetapi kini berupa tadah hujan karena kegunaan sungai sudah berubah. (eld)