Liffham’s Weblog


Ngalokat di Ciburuy …:
Maret 20, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Bandung, Kompas – Ritual Ngalokat Situ Ciburuy pada Sabtu (29/7) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah akan pentingnya danau tersebut. Kemajuan danau ini masih terkendala masalah lingkungan dan pariwisata.

Masalah yang kini dihadapi Situ Ciburuy adalah pendangkalan air akibat eksploitasi air secara berlebihan. Itu terlihat dari sampah yang berserakan sehingga mengurangi keindahan, dan penataan ruang yang semrawut sehingga berpotensi membahayakan kondisi lingkungan di tempat tersebut.

Ketua Panitia Ngalokat Ciburuy Nana Munajat mengungkapkan, tujuan dari diadakannya ritual ngalokat atau membersihkan danau lebih kepada pembaruan semangat dari semua pihak yang terkait.

“Selain untuk memperbaiki lingkungan di Situ Ciburuy, ritual ini ingin mengembalikan fungsi danau ini sebagai ruang publik, khususnya untuk kesenian,” kata Nana, Sabtu.

Nana beralasan, desa-desa yang berada di sekitar Situ Ciburuy sebenarnya mempunyai kantong-kantong kesenian yang belum disatukan sehingga terkesan mubazir. Oleh karena itu, Situ Ciburuy diharapkan menjadi tempat bagi desa-desa di sekitar Situ Ciburuy yang jumlahnya sepuluh desa itu untuk berekspresi.

“Jangan sampai nasib Situ Ciburuy seperti Situ Umar yang kini tinggal nama karena rusaknya lingkungan sekitar,” ujar Nana. Bermasalah

Pengelolaan Situ Ciburuy juga menjadi masalah karena danau itu hingga kini dikelola tidak oleh satu pihak saja. Selain Dinas Pengairan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung juga terlibat.

Nana berharap, masalah kewenangan mengenai pengelolaan Situ Ciburuy bisa jelas dan satu atap. Jangan sampai penduduk sekitar hanya menjadi penonton.

Tokoh pemuda Situ Ciburuy Jhony A Baretta mengungkapkan bahwa yang diinginkan masyarakat dari pemerintah selain kembalinya keasrian Situ Ciburuy juga mengenai kejelasan retribusi yang ditarik dari pengunjung. “Kami hanya ingin tahu retribusi tersebut ke mana dan digunakan untuk apa,” kata Jhony. Dalam ritual ngalokat Ciburuy, diawali dengan arak-arakan kesenian yang berasal dari sepuluh desa, yaitu Desa Kertamulya dengan calung dan pencak silat, Desa Padalarang dengan nasyid, Desa Cimerang dengan rampak sekar, Desa Cempaka Mekar dengan calung bajidoran, Desa Tagog Apu dengan barongsai, Desa Ciburuy dengan reog Sunda, Desa Kertajaya dengan pencak silat, Desa Cipendeuy dengan silat mande, Desa Jaya Mekar dengan calung, dan Desa Laksana Mekar dengan debus. Membangun komitmen

Langkah selanjutnya setelah acara selesai, jelas Nana, adalah membangun komitmen antara masyarakat yang terikat ke Situ Ciburuy- seperti pedagang, penarik perahu-dan warga sekitar. Upaya untuk mengembalikan Situ Ciburuy sebelumnya sering terhambat karena masyarakat hanya jadi penonton.

Agenda berikutnya adalah mengembalikan sumber air Situ Ciburuy. Sebelumnya, situ ini mengandalkan air dari Sungai Cimeta, tetapi kini berupa tadah hujan karena kegunaan sungai sudah berubah. (eld)


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>