Diarsipkan di bawah: Hikmah
Bandung, Kompas – Ritual Ngalokat Situ Ciburuy pada Sabtu (29/7) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah akan pentingnya danau tersebut. Kemajuan danau ini masih terkendala masalah lingkungan dan pariwisata.
Masalah yang kini dihadapi Situ Ciburuy adalah pendangkalan air akibat eksploitasi air secara berlebihan. Itu terlihat dari sampah yang berserakan sehingga mengurangi keindahan, dan penataan ruang yang semrawut sehingga berpotensi membahayakan kondisi lingkungan di tempat tersebut.
Ketua Panitia Ngalokat Ciburuy Nana Munajat mengungkapkan, tujuan dari diadakannya ritual ngalokat atau membersihkan danau lebih kepada pembaruan semangat dari semua pihak yang terkait.
“Selain untuk memperbaiki lingkungan di Situ Ciburuy, ritual ini ingin mengembalikan fungsi danau ini sebagai ruang publik, khususnya untuk kesenian,” kata Nana, Sabtu.
Nana beralasan, desa-desa yang berada di sekitar Situ Ciburuy sebenarnya mempunyai kantong-kantong kesenian yang belum disatukan sehingga terkesan mubazir. Oleh karena itu, Situ Ciburuy diharapkan menjadi tempat bagi desa-desa di sekitar Situ Ciburuy yang jumlahnya sepuluh desa itu untuk berekspresi.
“Jangan sampai nasib Situ Ciburuy seperti Situ Umar yang kini tinggal nama karena rusaknya lingkungan sekitar,” ujar Nana. Bermasalah
Pengelolaan Situ Ciburuy juga menjadi masalah karena danau itu hingga kini dikelola tidak oleh satu pihak saja. Selain Dinas Pengairan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung juga terlibat.
Nana berharap, masalah kewenangan mengenai pengelolaan Situ Ciburuy bisa jelas dan satu atap. Jangan sampai penduduk sekitar hanya menjadi penonton.
Tokoh pemuda Situ Ciburuy Jhony A Baretta mengungkapkan bahwa yang diinginkan masyarakat dari pemerintah selain kembalinya keasrian Situ Ciburuy juga mengenai kejelasan retribusi yang ditarik dari pengunjung. “Kami hanya ingin tahu retribusi tersebut ke mana dan digunakan untuk apa,” kata Jhony. Dalam ritual ngalokat Ciburuy, diawali dengan arak-arakan kesenian yang berasal dari sepuluh desa, yaitu Desa Kertamulya dengan calung dan pencak silat, Desa Padalarang dengan nasyid, Desa Cimerang dengan rampak sekar, Desa Cempaka Mekar dengan calung bajidoran, Desa Tagog Apu dengan barongsai, Desa Ciburuy dengan reog Sunda, Desa Kertajaya dengan pencak silat, Desa Cipendeuy dengan silat mande, Desa Jaya Mekar dengan calung, dan Desa Laksana Mekar dengan debus. Membangun komitmen
Langkah selanjutnya setelah acara selesai, jelas Nana, adalah membangun komitmen antara masyarakat yang terikat ke Situ Ciburuy- seperti pedagang, penarik perahu-dan warga sekitar. Upaya untuk mengembalikan Situ Ciburuy sebelumnya sering terhambat karena masyarakat hanya jadi penonton.
Agenda berikutnya adalah mengembalikan sumber air Situ Ciburuy. Sebelumnya, situ ini mengandalkan air dari Sungai Cimeta, tetapi kini berupa tadah hujan karena kegunaan sungai sudah berubah. (eld)
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya.
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.
Ketika Roh Meninggalkan Jasad…
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara
Ketika Mayat Siap Dikafan…
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”
Ketika Mayat Diusung….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”
Ketika Mayat Siap Dishalatkan…. Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”
Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat….
Terdengar Suara Memekik Dari Langit,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”
Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian….
Allah Berkata Kepadanya, “Wahai Hamba-Ku….. Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,…. Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku
Anda Ingin Beramal Shaleh…?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal…
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Assalaamu �alaikum, adikku… Untuk kesekian kalinya, surat kakakmu nyembul di sela tumpukan kertas-kertasmu. Nyelip di antara buku, kitab, majalah, tabloid, koran, dan seabrek kliping- klipingmu. Aku nggak kaget bila risalahku ini kau tempatkan di rak nomor 13 dan mendapat giliran baca yang ke-13 pula. Aku ngerti, pesan- pesanku yang asal-tulis semacam ini nggak pantas kauistimewakan… O ya, mumpung inget aku mo tanya. Bacaan apa sih yang tertata paling rapi di rak nomor satumu sekarang? Bolehkah kuintip? Dikit aja?
Adikku… aku nggak usah ngintip deh. Aku kuatir kau ngerasa privasimu terganggu, lalu kau jadi males bersaudara denganku. Risiko ini terlalu berat. Jadi, gantinya, kudoaian aja ya: Moga-moga tiap kali kau ngerasa gembira, kau noleh ke surat-surat dari-Nya. Semoga tiap kali kau ngerasa sedih, kau berpaling ke bacaan yang sama. Mudah-mudahan, entah suka entah duka kaurasa, selalu kaubaca surat-surat spesialmu itu dengan lidah basahmu dan bibir mungilmu serta dengan hati beningmu. Yach, semoga dalam tidurmu pun kau tetap sering bermimpi �surat-suratan’ dengan Dia, Sang Pencipta. Aamiiin…. Eh, kalimat- kalimat indah yang kau muliakan di deretan terdepan rak nomor satu itu masih surat-surat-Nya �kan? Bukan rajutan kata-kata si dia yang tiada hari tanpa ngerayu kamu �kan?
Ups… Beginilah kakakmu, Dik. Udah bawaan �kali, suka nanya-nanya. Bukan aku mo nginterogasi kamu lho. Buat apa? Bukankah yang sungguh- sungguh mampu memeriksa kita masing-masing secara cermat itu malaikat Munkar dan Nakir di �malam pertama’ alam kubur kita kelak?
Astaghfirullaah… mikirin alam kubur ngebikin aku bergidik. Bukan takut ama segala macam hantu yang kata orang sama dengan syetan. Masak sih, kita lebih takut ama iblis ketimbang ama Tuhan?… Aku sih lebih ngeri gimana ngadepin pertanyaan sepasang malaikat penanya. Semalam aku sampe kurang nyenyak tidur, ngimpiin satu jenis aja pertanyaan mereka. (Belum lagi jenis pertanyaan lain. Aduuuh…)
Pertanyaan pertama meluncur dari mereka: �Bacaan apa yang paling kausukai, hai manusia yang sendirian di liang lahat!�
�Al-Qur’an!�
Begitu jawabku, Dik… dengan sikap polos seolah-olah sedang ta’aruf dengan si dia yang kutaksir. Tapi, sesuaikah jawabanku dengan kenyataan?… Sepasang makhluk gaib di alam kubur itu kelak nggak bakalan dapat kubohongi. Di �kantong baju’ Munkar-Nakir itu tersimpan film video, rekaman seluruh aspek kehidupanku di dunia ini, lahir dan batin. Tiada lagi rahasia hati.
Mulut kita pun tidak lagi bisa kita perintahkan untuk berdusta. Jika kita hobi ngebaca trend kemajuan zaman, bacaan porno, berita kriminalitas, olahraga, tabloid gosip, atau pun bacaan lain dengan tingkat keasyikan yang mengungguli kekhusyukan kita dalam menelaah surat-surat-Nya, maka jangan-jangan jawaban yang akan terlontar dari mulut kita kelak akan sesuai dengan hobi kita itu, Dik.
�Untuk apa kaubaca Al-Qur’an, hai manusia yang hobi baca-baca?� tanya Munkar-Nakir hentikan lamunanku… Wah, makin sukar aja, ya, pertanyaannya.
Lalu aku menjawab … hmmm … Sori, Dik. Aku lupa. (Jangan-jangan udah mulai pikun nih.) Yang kuingat, seusai itu Munkar-Nakir berkata keras, setengah membentak:
�Hai manusia! Kami mau tahu bagaimana engkau membaca Al-Qur’an. Bacalah!�
Dengan rada gemeter aku gerakin lidah dan bibir: �A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. ….�
�Bacalah!� sela Munkar-Nakir.
�Lho lho lho… Bukankah aku sedang membaca Al-Qur’an? Kenapa tetap disuruh baca? Ada apa nih? Ngajak bercanda, ya?�
�Tidak! Bacalah dengan nama-nama Tuhanmu! Pantulkanlah sifat-sifat Tuhanmu selaku wakil-Nya di dunia. Pantulkanlah di setiap degup jantungmu, setiap tetes keringatmu, setiap embus napasmu… lebih- lebih saat dan usai kaubaca surat-Nya! Kau tahu, Dia itu Sang Pengasih. Lantas, seberapa kasih dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Penyayang. Tapi, seberapa sayang dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Kreator; seberapa kreatif engkau mewakili Dia di dunia? …,� tukas Munkar-Nakir.
Kyaaa… dapet soal kok ya sulit-sulit. Mati aku! (Loh… kok mati lagi? Di alam barzah, kita udah game-over �kan?)
Tiba-tiba suara menggelegar menusuk lubang telingaku: �BACALAH! Artikelku dimuat lagi di EraMuslim!� (Haaah?!) Rupanya sebuah teriakan asing bernada riang bangunkan aku dari mimpi yang aneh. Yang lebih aneh, suara asing ini ternyata keluar dari mulutku sendiri!
Akhirnya, tiada lagi kata-kata yang kulontarkan selain memuji Sang Pencipta kehidupan. �Alhamdu lillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur. (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya lah tempat kembali.)� (HR Bukhari)***
(Aisha Chuang,ac4×3@yahoo.com,Penulis buku Manajemen Cinta �Musim Dingin’: Ada ukhuwah abang disayang, tak ada ukhuwah abang ditendang (Surakarta: Bunda Yurida, November 2003)
==========
Penulis – Aisha Chuang,ac4×3@yahoo.com
Sumber �- www.eramuslim.com
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Ya Rabb maafkan daku kalau cintaku sempat memudar
Ampuni daku kalau cintaku sempat surut, sempat minipis
terkikis oleh nuansa kebebasan, sekulersime, liberalisme
materialisme dan langkanya nuansa Islami.
Aku bagai sebuah lilin terbakar oleh apinya sendiri, kedasar,
alas kakiku terlepas hingga begitu mudahnya aku tergelincir
basyirah dan naluri tauhidku luruh terdismantel
tatkala kita jadi minoritas disuatu negeri.
Hingga suatu hari kami terlempar di keterjalannya karang
hingga kami terhempas oleh gemuruh gelegarnya gedung
oleh sebuah rekayasa teknologi yang biasnya kami dapati
hingga kami, aku, kita terlindas oleh roda roda kenistaan.
***
Dulu kami mencoba menata misi Muhibbah. Jalanan kami telusuri
mulai dari Dover, Belgia, Humberg, Austria, Croatia dan berakhir
di Mostar di Timur Eropa, sekedar menebar rasa cinta dan empati
untuk saudara kami yang terkapar tak berdaya.
Lanjut kuarungi bahari luas ke gugusan pulau-pulau seribu.
Kutelusuri lorong lorong gelap pengap, diiringi bau anyir
lalu ke dibukit-bukit, desa-desa dan kota-kota
hingga tiba dibatas antara dua komunitas
bersama unggunan karung karung berisi pasir
dan moncong senjata siap menyembur setiap saat.
Disana…kutemui pemilik piala hati janda-janda syuhada
bersama ribuan yatim terlantar yang duka laranya
diredam oleh media untuk dan atas nama stabilitas negeri.
Yang Izzah Islam mereka punah diinjak dan dicabik
oleh sebuah agenda keji durjana tak terperikan
yang konon diatas namakan kecemburun sosial
hingga dua komunitas berseteru saling memburu nyawa
Padahal politik kejilah memoles semua agenda ini.
Semua ini telah membuat kami terpana, bangkit dan tergugah
akan tragedi dan nista akan dosa yang lalai dan terlena
oleh dan atas nama toleran, kerukunan dan silodaritas
hingga menyisakan demarkasi dan batas dari dua komunitas
dari tiada, kini ada.
***
Dibelahan barat Engkau telah tunjukan kebesaranMu
dengan meluluh lantakan lewat gempa dahsyat, seiring
dengan Tsunami-Mu disuatu Dhuha dalam kurun satu jam.
Kau tunjukan murkaMu sekaligus cintaMu untukku, kami
yang lalai, terlena dan larut oleh fatamorgana duniya
akan keserakahan, kedzaliman selama setengah abad.
Darinya terlahir rasa cinta ukhuwah dan empati kami
untuk menyampaikan peduli yang selama ini kami peram
membiarkan jerit tangis dan duka lara mereka.
Ya Rabbb ampunilah kami.
” Maka dengan nikmatNya kamu menjadi bersaudara “
(Al-Imron :103)
***
Dari semua kemelut dan tragedi dijagat raya ini membuatku tersadar,
Lalu kubertandang kesetiap sudut sudut hati derita para korban
Disana….kutemukan Cintaku, disana kutemukan cinta hakiki
yang sempat menipis dan pudar, disana kutemukan kebesarnaMu
Hai Pemilik Cinta… kembalikan cintaku, kembalikan cintaku
sematkan kembali kedadaku, semaikan kembali ke qalbuku
semi-kan kembali ke lubuk lahan hatiku.
***
Kala kudengar namamu ya Kekasih, denyut nadiku berlari,
Kala kusebut namaMu seolah tulang sekujur tubuh luluh
bersit cinta itu membias pada relung lekuk hatiku.
Lalu dimalam kelam temaram, kala kurebahkan tubuhku
dengan lembut syahdu kesebut namaMu, kubisikan penuh mesra
Kuberjanji ku ta’kan menduakan Engkau dengan selainnya
Engkau yang Esa, Engkau yang Maha Rahim dan Karim
Ya Rabb kuserahkan semua hatiku, kaffah dan totalitas.
“Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah dan selamatnya
kaum Muslim dari lidah dan tanganmu”
London, 30 Juni 2005
Diarsipkan di bawah: Hikmah
“Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)” (Qs al Hijr :44)
Diriwayatkan bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saw memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:
1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.
2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.
3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).
4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.
5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.
6. Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.
Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saww maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: “Pintu ini untuk umatmu yang angkuh”; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.
Lalu, Nabi saw mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata: “Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?”
Kemudian Nabi saw mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.
Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (al-A’la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saww). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: ” Aduhai! Sementara putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai”.
Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian ia berkata: “Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata “Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?”
Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi saww menjawab, “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab”.
Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, “Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal”. Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata, “Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Nabi saww menjawab, “Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.
Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi saww menangis dan meratap, “Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit”. Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini”, Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman menjawab, “Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka).
Maha adil Allah, begitu demokratisnya memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih.. antara iman & kufur, dengan tanpa ada paksaan ” laa ikrooha fiddin..”.
Akhirnya pilihan yang kita ambil, mendapatkan konsekuensi adil dari dzat yang maha adil. Jalan menuju sorga berliku nan mendaki tapi saat sampai tujuan, maka akan mendapatkan keindahan yang “tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak dapat dibayangkan oleh hati. Sedangkan jalan menuju neraka, indah mempesona..akhirnya sampai pada kondisi yang mengerikan..
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Pada zaman Rasulullah s.a.w, ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Nabi s.a.w lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan.
Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, “Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu.”
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Nabi s.a.w, “Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini.”
Kemudian Nabi s.a.w bertanya kepada unta itu, “Hai unta, milik siapakah engkau ini ?”
Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, “Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta.”
Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu, “Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar.”
Jawab orang Muslim itu, “Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca sholawat ke atas engkau sepuluh kali.”
Rasulullah s.a.w bersabda,
“Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca sholawat untukku.”
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula dapat melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.
Wallahu a’lam
Sumber:
1001 Kisah Teladan
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (QS. Al- a’araf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”.
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (QS. Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam al-Ghazali. Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah ‘meninggalkan SHALAT’. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.
Lantas pertanyaan keenam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”.
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah “lidah MANUSIA” [jadi ingat dengan seorang Kyai Haji yang sudah tua tetapi yang kadang-kadang suka ceplas-ceplos yang kurang baik tentang Islam - red, dan semoga kita semua diampuni Allah SWT karena kadang kita lalai dalam menjaga lidah/ucapan kita sendiri]. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. [sumber www.hidayatullah.com]