Diarsipkan di bawah: manusia
NABI Muhammad saw bersabda bermaksud : “Apabila Allah hendak membahagiakan seseorang hamba-Nya, Allah menyeru Jibril dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah kasihkan si anu, maka hendaklah engkau mengasihinya.” Jibril pun mengasihinya; kemudian Jibril mengisytiharkan kepada sekalian penduduk langit, katanya: “Sesungguhnya Allah kasihkan si anu, maka hendaklah kamu sekalian mengasihinya.” Dengan itu, penduduk langit pun mengasihinya; setelah itu orang berkenaan dikasihi dan
diberi sambutan di bumi.Dan apabila Allah Taala bencikan seseorang hamba-Nya, Allah memanggil Jibril serta berfirman: “Sesungguhnya Aku bencikan si anu, maka hendaklah engkau bencikan dia.” Jibril pun membencinya; kemudian Jibril mengisytiharkan kepada sekalian penduduk langit, katanya: “Sesungguhnya Allah bencikan si anu, maka hendaklah kamu sekalian membencinya.” Dengan itu, penduduk langit pun membencinya; setelah itu orang berkenaan dibenci dan dipulaukan di bumi.”Umat Islam dilarang melakukan perkara buruk serta dibenci agama dan masyarakat, tetapi hendaklah sentiasa berbuat kebaikan.
Orang yang mempunyai sifat dan amalan baik sesungguhnya amat dikasihi Allah. Dia jugadisayangi oleh sekalian makhluk yang ada di langit dan bumi.
Pengisytiharan kasih maupun benci oleh Allah terhadap seseorang itu adalah sebagai memberi nilai yang sewajarnya. Hal ini agar kesan kebaikan dan kejahatan itu dapat dirasakan oleh pelakunya di dunia, sebelum menerima balasan sepenuhnya pada hari akhirat.
Kita selaku manusia biasa adalah tidak layak untuk menilai buruk baiknya seseorang, apa lagi menghukum dan membenci manusia lain kerana hanya Allah yang berhak berbuat demikian.
Diarsipkan di bawah: manusia
Artinya: Diriwayatkan dari Khalifah Umar bin Khattab
ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda:”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung
pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan
apa yang ia niatkan, maka barang siapa yang berhijrah
dengan niat karena Allah dan RasulNya, maka dalam
hijrahnya itu ia akan mendapatkan pahala karena taat
kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang
berhijrah dengan niat mendapatkan barang duniawi, atau
karena perempuan yang akan dinikahinya, maka ia (dalam
hijrahnya) hanya akan mendapatkan hal itu. Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam
buku Shahih keduanya.
Asbabul Wurud el-Hadits (sebab turunnya hadits)
diriwayatkan bahwa pada zaman Rasulullah, terdapat
seorang pria meminang seorang wanita yang bernama Ummu
Qais, dan ternyata Ummu Qais berniat hijrah ke Madinah
mengikuti jejak Rasul dan para sahabatnya. Maka ia
(Ummu Qais) memberikan syarat kepada tunangannya itu
agar berhijrah bila ingin menikahinya. Dan berhijrahlah
tunangannya itu ke Madinah dengan harapan dapat
menikahi Ummu Qais. Kemudian rasulullah mengetahui
cerita ini, dan beliau mengeluarkan hadits ini, dengan
tujuan ingin menjelaskan kepada kaum muslimin tentang
peran niat dalam perbuatan. Sejak itu pria itu dijuluki
dengan “Muhajir Ummi Qais” (orang yang berhijrah demi
Ummu Qais).
Kandungan Hadits
Hadits di atas merupakan salah satu hadits pokok dalam
ajaran Islam. Imam Ahmad berkata: “Dasar-dasar Islam
itu terangkum dalam tiga hadits, pertama dalam hadits
ini, kedua dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah ra.:
“Man ahdatsa fii amrina hadza ma laisa minhu fahuwa
raddun”, ketiga hadits yang diriwayatkan oleh Nu’man
bin Basyir: “al halaalu bayinun wal haraamu
bayyinun…..”. Komentar Imam Syafi’i : “hadist ini
merupakan sepertiga ilmu agama, di dalamnya terangkum
tujupuluh bab fiqih.” Hal ini tidak aneh, karena
perbuatan manusia selalu dilihat dari niatnya.
Niat secara bahasa (semantik) berarti: Maksud, tujuan,
keinginan. Dalam terminologi fiqih niat adalah:
“keinginan hati (untuk berbuat) yang dibarengi dengan
perbuatan. Ilustrasinya, bila seseorang ingin berpuasa
sunat kemudian ia berpuasa, maka ia telah berniat. Bila
seseorang hanya berkeinginan (berbuat) tapi
keinginannya itu tak direalisaikan dalam perbuatan, itu
bukanlah niat dalam pemahaman fikih.
Niat menurut Ulama mempunyai dua dimensi:
Pertama, untuk membedakan antara satu ibadah dengan
yang lain. Contohnya, niat dalam salat Dzuhur untuk
membedakan dari salat Ashar. Hal ini menjadi pembahasan
para fuqaha dalam buku-bukunya. Oleh karena itu niat
senantiasa menjadi salah satu rukun dalam suatu ibadah.
Kedua, untuk membedakan antara ibadah dengan adat
(kebiasaan). Maksudnya bila seseorang makan dan minum
dengan niat karena Allah, maka ia beribadah,
mendapatkan pahala, padahal makan dan minum adalah
kebiasaan (kebutuhan) hidup manusia. Atau dengan
istilah lain, untuk membedakan maksud perbuatan itu
karena Allah ataupun karena yang lainnya. Dan hal ini
menjadi pembahasan
para ahli sufi dalam karya-karyanya yang dikenal dengan
istilah keikhlasan.
Dengan demikian perbuatan dalam Islam dianggap benar
bila memenuhi dua hal:
Pertama, perbuatan yang zhahirnya sesuai dengan ajaran
Islam. Artinya, memenuhi syarat-syarat sahnya, dan
rukun-rukunya. Kedua, perbuatan yang bathinnya
dimaksudkan demi Allah swt. Logikanya, setiap perbuatan
diniatkan demi Allah tapi tidak sesuai dengan ajaran
Islam maka tidak akan diterima.
Perlu diketahui bahwa perbuatan yang diniatkan selain
Allah terbagi menjadi
beberapa bagian:
Pertama, perbuatan yang riya (pamer) semata dengan
tujuan agar dilihat dan dipuji orang lain. Perbuatan
ini adalah perbuatan kaum munafik, tidak diterima oleh
Allah. Kedua, perbuatan yang diniatkan demi Allah swt
bercampur dengan rasa riya, ini pun terbagi dua bentuk:
1)Bila rasa riya itu bercampur sejak awal, maka
perbuatannya itu batal, tidak diterima. Misalkan,
seorang kaya mengeluarkan zakat hartanya, karena
kewajiban agama (demi Allah) dan juga ingin dipandang
oleh orang lain. Meskipun ia telah terbebas dari
kewajiban zakat, namun ia tak mendapatkan pahala
zakatnya. 2)Perbuatan yang asalnya lillah, kemudian
muncul rasa riya di tengah-tengah perbuatan itu, maka
perbuatannya itu dihukumi berdasarkan niat asalnya.
Bila kita lihat hadits di atas, terbagi dalam tiga
statement. Pertama, “innamaa al-a’maalu bi al-niyyaat”
di sini digunakan kata “innamaa” yang dalam tata bahasa
Arab dikenal sebagai penguat, ini sebagai tekanan bahwa
segala perbuatan manusia itu tergantung pada niat
pelakunya. Maksud perbuatan di sini adalah perbuatan
independen, bukan paksaan.
Kemudian digunakan kata jama (plural) dalam “al-a’maal”
dan “al-niyyaat” di sini memberikan pengertian bahwa
perbuatan manusia itu bermacam-macam, begitu pula
niatnya beraneka ragam. Antara perbuatan dan niat tak
dapat dipisahkan.
Kedua, “wa innamaa likullimri’in maa nawaa” yang
artinya: setiap orang niscaya mendapatkan apa yang ia
niatkan. Statemen kedua ini sebagai pemberitaan Rasul
tentang hukum syariat, bahwa segala perbuatan itu
dinilai dari niat pelakunya, atau dengan kata lain
baik-buruknya suatu perbuatan (di mata Allah) di lihat
dari baik-buruknya niat si pelaku. Bila niatnya jelek
maka perbuatannya itu jelek pula.
Ketiga, setelah memberikan dua statemen sebagai kaidah
umum, kemudian Rasul memberikan contoh kongkrit dari
kaidah-kaidah di atas lewat statemen berikutnya. Dalam
statemen ketiga dijelaskan bahwa orang yang berhijrah
(ke Madinah-saat itu) dengan niat karena patuh terhadap
perintah Allah dan rasul-Nya, niscaya akan mendapatkan
kemuliayaan dunia-akhirat dan pahala dari Allah swt.
Tapi bagi orang yang yang hijrah dengan niat
mendapatkan benda duniawi semata, maka ia hanya
mendapatkan benda itu saja.
Diarsipkan di bawah: manusia
Beberapa ayat di dalam Al-Quran berikut ini tidak mengandung
sesuatu pun kecuali makna spiritual mendalam. Yang lainnya,
dalam pandangan saya, merujuk kepada
transformasi-transformasi yang tampaknya menunjukkan
perubahan-perubahan di dalam morfologi manusia. Yang
terkemudian ini menguraikan fenomena yang sepenuhnya
bersifat material, yang terjadi di dalam berbagai fase tapi
selalu dalam susunan yang tepat. Campur tangan kehendak
Tuhan, yang mengatasi segalanya, disebutkan beberapa kali
dalam ayat-ayat ini. Hal tersebut tampak dimaksudkan untuk
mengarahkan transformasi-transformasi yang terjadi selama
suatu proses yang hanya bisa diuraikan sebagai suatu
'evolusi.' Di sini, kata tersebut dipergunakan dengan maksud
untuk menunjukkan satu rangkaian modifikasi-modifikasi yang
tujuannya adalah untuk sampai kepada satu bentuk definitif
(tetap). Tambahan pula, penekanan diberikan kepada gagasan
bahwa ke-Mahakuasaan Tuhan tampil pada kenyataan bahwa Ia
memusnahkan populasi manusia untuk memberi jalan bagi
populasi baru lainnya: hal ini tampak bagi saya sebagai
tema-tema utama yang muncul dari himpunan ayat Al-Quran yang
disatukan di dalam bab ini.
Tak syak lagi, para pengulas terdahulu tidak mampu melihat
adanya gagasan bahwa bentuk manusia bisa jadi telah
mengalami transformasi. Meskipun demikian, mereka
berkehendak untuk mengakui bahwa perubahan-perubahan mungkin
saja benar-benar telah terjadi dan mereka mengakui
kemaujudan tahapan-tahapan di sepanjang perkembangan
embrionik -suatu gejala yang biasa teramati pada seluruh
kurun waktu dalam sejarah. Meskipun demikian, hanya pada
masa kita inilah, sains modern mengizinkan kita untuk
sepenuhnya memahami arti ayat-ayat Al-Quran yang menunjuk
kepada tahapan-tahapan berturutan dari perkembangan
embrionik di dalam rahim.
Pada saat ini kita memang bisa bertanya-tanya apakah
perujukan-perujukan di dalam Al-Quran kepada tahap-tahap
yang berurutan dari perkembangan manusia, paling tidak pada
beberapa ayat, tidak melampaui sekadar pertumbuhan embrionik
sedemikian sehingga mencakup transformasi-transformasi
morfologi manusia yang terjadi selama berabad-abad.
Kemaujudan perubahan-perubahan seperti itu telah secara
resmi dibuktikan oleh paleontologi dan buktinya sangat
banyak sehingga tak perlu lagi untuk mempertanyakannya.
Para penafsir Al-Quran terdahulu barangkali tak punya
firasat bakal adanya penemuan-penemuan pada berabad-abad
kemudian. Mereka hanya bisa memandang ayat-ayat khusus ini
dalam konteks perkembangan embrio, tak ada alternatif lain
pada masa itu.
Kemudian tibalah bom Darwin yang -melalui pemuntiran
terang-terangan teori Darwin oleh para pengikut awalnya-
mengekstrapolasikan pengertian tentang suatu evolusi yang
bisa diterapkan atas manusia, meskipun tingkat evolusinya
belum lagi dibuktikan di dalam dunia hewan. Dalam hal
Darwin, teori tersebut didorong sampai ke tingkat ekstrem
sedemikian sehingga para peneliti mengklaim sebagai telah
memiliki bukti bahwa manusia berasal dari kera -suatu
gagasan yang, bahkan pada masa sekarang, tak seorang ahli
paleontologi terhormat sekalipun mampu membuktikannya. Meski
demikian jelas terdapat satu jurang yang sangat senjang di
antara konsep tentang manusia yang berasal dari kera (suatu
teori yang sepenuhnya tak bisa dipertahankan) dengan gagasan
transformasi-transformasi bentuk manusia di sepanjang waktu
(yang telah sepenuhnya dibuktikan). Kerancuan antara
keduanya telah mencapai puncaknya ketika mereka digabungkan
menjadi satu -dengan hujjah-hujjah yang sangat dicari-cari-
di bawah panji kata EVOLUSI. Kerancuan yang tidak
menguntungkan ini telah menyebabkan beberapa orang secara
salah mengkhayalkan bahwa karena kata tersebut dipergunakan
untuk menunjuk manusia, maka ia mesti berarti bahwa, menurut
kenyataan itu sendiri, Asal Manusia bisa dilacak hingga
kera.
Adalah amat penting untuk memahami dengan gamblang perbedaan
di antara keduanya; kalau tidak, ada risiko timbulnya
kesalahpahaman tentang makna yang dikaitkan kepada beberapa
ayat Al-Quran tertentu yang akan saya kutip. Di dalam
ayat-ayat ini tak ada satu isyarat yang paling samar-samar
pun berkenaan dengan bukti untuk mendukung teori
materialistis tentang asal-usul manusia yang amat
mengguncangkan kaum Muslim, Yahudi dan Nasrani tersebut.
Makna Spiritual Mendalam Penciptaan Manusia dari Tanah
------------------------------------------------------------
Sebagaimana ditunjukkan oleh kedua ayat berikut ini, manusia
ditampilkan di dalam Al-Quran sebagai suatu wujud yang amat
erat berkaitan dengan tanah (perujukan pertama):
[Tulisan Arab]
"Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai suatu tumbuhan dari
tanah, dan kemudian Dia akan mengembalikan kamu kepadanya,
Dia akan mengeluarkan kamu lagi, sebagai suatu keluaran
baru." (QS 71 :17-18)
Ayat berikut ini menyebutkan tentang tanah (perujukan nomor
2):
[Tulisan Arab]
"Dari (tanah) itulah Kami,[5] membentuk kamu dan kepadanya
Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan
mengeluarkan kamu pada kali yang lain. " (QS 20:55)
Aspek spiritual asal manusia dari tanah ini ditekankan oleh
kenyataan bahwa kita mesti kembali ke tanah setelah kematian
dan juga oleh gagasan bahwa Tuhan akan mengeluarkan kita
lagi pada Hari Pengadilan, suatu makna spiritual yang,
sebagaimana telah kita lihat, juga ditegaskan oleh Bibel.
Sehubungan dengan penerjemahan di atas, berkenaan dengan
perujukan nomor 2, saya ingin menunjukkan kepada baik para
pembaca berbahasa Arab maupun yang menguasai bahasa Arab di
Barat, kata bahasa Arab khalaqa biasa diterjemahkan dengan
kata kerja 'menciptakan'. Tetapi, penting untuk diketahui,
bahwa sebagaimana ditunjukkan oleh kamus yang amat baik yang
disusun oleh Kasimirski, arti asli kata tersebut adalah
'memberikan suatu proporsi kepada sesuatu atau membuatnya
memiliki proporsi atau jumlah tertentu.' Bagi Tuhan (saja),
penerjemahan tersebut telah dimudahkan dengan penggunaan
kata 'menciptakan,' yakni mewujudkan sesuatu yang sebelumnya
tidak maujud. Dengan berbuat demikian, orang-orang yang
secara eksklusif menggunakan istilah 'menciptakan' sebagai
merujuk kepada tindakan itu, telah gagal menerjemahkan
gagasan tentang 'proporsi' yang menyertainya. Penerjemahan
yang lebih tepat, barangkali, adalah dengan menggunakan kata
'membentuk' atau 'membentuk dalam proporsi tertentu.' Hal
ini akan membawa kita lebih dekat kepada makna asli kata
bahasa Arabnya. Inilah sebabnya, kenapa saya telah memilih
menggunakan kata 'membentuk' di dalam sebagian besar
terjemahan-terjemahan saya, dengan makna yang disiratkan
oleh kata bahasa Arab primitifnya.
Komponen-Komponen Bumi (Tanah) Dan Pembentukan Manusia
------------------------------------------------------------
Makna spiritual utama asal-usul manusia dari tanah tidak
menyingkirkan pengertian, yang ada di dalam Al-Quran,
tentang apa yang pada masa kini disebut sebagai
'komponen-komponen' kimiawi tubuh manusia yang bisa
ditemukan di tanah[6] agar bisa membawakan pengertian ini
yang pada masa kini diakui sebagai tepat secara saintifik
kepada orang-orang yang hidup ketika Al-Quran diwahyukan,
maka terminologi yang sesuai dengan tingkat pengetahuan pada
masa itu harus digunakan. Manusia dibentuk dari
komponen-komponen yang dikandung di dalam tanah. Gagasan ini
muncul dengan sangat jelas dari berbagai ayat yang di
dalamnya elemen-elemen pembentuk tersebut ditunjukkan dengan
berbagai nama (perujukan nomor 3):
[Tulisan Arab]
"Dia telah menyebabkan kamu tumbuh dari bumi (tanat)." (QS
11.61)
Gagasan tentang tanah (ardh di dalam bahasa Arab) diulangi
pada surah 53 ayat 32.
Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 4):
[Tulisan Arab]
"Maka sesungguhnya Kami telah membentukmu dari tanah gemuk
(soil)." (QS 22 :5)
Asal manusia dari tanah gemuk (thurab di dalam bahasa Arab)
diulangi dalam surah 18 ayat 37, surah 30 ayat 20, surah 35
ayat 11 dan surah 40 ayat 67. Selanjutnya (perujukan nomor
5):
[Tulisan Arab]
"Dialah yang membentuk kamu dari lempung." (QS 6 :2)
Lempung (thin dalam bahasa Arab) dipergunakan dalam beberapa
ayat untuk mendefinisikan komponen-komponen pembentuk
manusia.
Selanjutnya (perujukan nomor 6):
[Tulisan Arab]
"(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari lempung." (QS 32:7)
Penting untuk dicatat dalam hal ini bahwa Al-Quran menunjuk
kepada 'awal' suatu penciptaan dari lempung. Hal ini jelas
bermakna bahwa tahap yang lain akan segera mengikuti.
Meskipun tampak tidak memberikan data baru bagi studi masa
kini, kutipan berikut ini diberikan demi kelengkapan. Ayat
ini merujuk kepada manusia (perujukan nomor 7):
[Tulisan Arab]
"Sesungguhnya Kami telah membentuk mereka dari lempung yang
pekat." (QS 37:11)
Selanjutnya (perujukan nomor 8):
[Tulisan Arab]
"Dia membentuk manusia dari lempung, seperti tembikar." (QS
55:14)
Citra di atas menunjukkan bahwa manusia 'dimodelkan',
sebagaimana ditunjukkan dalam ayat berikut ini. Kita juga
bisa menemukan gagasan tentang 'pencetakan' manusia, yang
merupakan subyek sub-bagian berikut (perujukan nomor 9):
[Tulisan Arab]
"Dan sesungguhnya Kami telah membentuk manusia dari lempung,
dari lumpur yang dicetak." (QS 15:26)
Gagasan yang sama diulangi (perujukan nomor 10):
[Tulisan Arab]
"Dan sesungguhnya Kami telah membentuk manusia dari suatu
saripati lempung." (QS 23 :12)
Saya menggunakan kata 'saripati' untuk menerjemahkan istilah
bahasa Arab sulalat yang berarti 'sesuatu yang disarikan
dari sesuatu yang lain' sebagaimana akan kita lihat nanti.
Kata tersebut muncul di bagian lain Al-Quran, yang di
dalamnya dinyatakan bahwa Asal Manusia adalah sesuatu
yang disarikan dari cairan mani; (pada masa kini diketahui
bahwa komponen aktif cairan mani adalah organisme sel
tunggal yang disebut 'spermatozoon' ).
Saya membayangkan bahwa 'saripati lempung' pasti merujuk
pada berbagai komponen kimiawi yang menyusun lempung yang
disarikan dari air yang dalam hal bobotnya merupakan unsur
utama.
Air yang di dalam Al-Quran dianggap sebagai asal-usul
seluruh kehidupan, disebutkan sebagai unsur penting dalam
ayat berikut (perujukan nomor 11):
[Tulisan Arab]
"Dan Dia (pula) yang membentuk manusia dan air, maka Dia
jadikan pertalian keturunan (oleh laki-laki) dan
kekeluargaan oleh wanita." (QS 25:54)
Sebagaimana di tempat lain dalam Al-Quran, 'manusia' yang
dirujuk di sini adalah Adam.
Beberapa ayat menyinggung penciptaan wanita (perujukan nomor
12):
[Tulisan Arab]
"Tuhanmu sajalah) yang telah membentuk kamu dari setunggal
diri dan darinya menciptakan istrinya." (QS 4:1)
Ayat ini diulangi pada surah 7 ayat 189 dan surah 39 ayat 6.
Topik yang sama dirujuk dalam peristilahan yang kurang lebih
sama dalam surah 30 ayat 21 dan surah 42 ayat 11.
Tak akan timbul keraguan bahwa di dalam kedua belas
perujukan di atas banyak ruang diberikan kepada perenungan
simbolis tentang Asal Manusia, termasuk suatu isyarat
yang jelas tentang apa yang akan terjadi atasnya setelah
kematiannya, dan mengandung penunjukan-penunjukan kepada
fakta bahwa manusia akan kembali ke bumi demi dimunculkan
kembali pada Hari Pengadilan. Meskipun demikian, di sana
juga tampak adanya perujukan kepada komposisi kimiawi tubuh
manusia.
Diarsipkan di bawah: manusia
Salah satu sifat asli Al-Quran, yang membedakannya dari
Bibel sebagaimana disebutkan di atas, adalah bahwa untuk
mengilustrasikan penegasan yang berulang-ulang tentang
ke-Mahakuasaan Tuhan, Kitab tersebut merujuk kepada suatu
keragaman gejala alam. Dalam hal sejumlah besar fenomena ini
ia juga memberikan suatu uraian terinci tentang cara
fenomena-fenomena itu berevolusi -penyebab-penyebab dan
akibat-akibatnya. Kesemua rincian ini pantas untuk
diperhatikan. Pernyataan-pernyataan yang dikandung oleh
Al-Quran tentang manusia, adalah di antara yang paling
mengejutkan saya ketika saya membaca kitab tersebut untuk
pertama kalinya dalam bahasa Arab aslinya. Hanya yang
aslinya sajalah yang bisa menjelaskan makna sejati
pernyataan-pernyataan yang amat sering disalahterjemahkan
disebabkan alasan-alasan yang disebut di atas.
Yang menjadikan penemuan-penemuan ini sangat penting adalah
bahwa kesemuanya itu merujuk pada banyak pengertian yang
belum dikenal pada saat-saat Al-Quran diwahyukan kepada
manusia dan yang -baru empat belas abad kemudian- terbukti
sepenuhnya selaras dengan sains modern. Dalam konteks ini
sama sekali tak perlu mencari-cari penjelasan-penjelasan
palsu yang cenderung muncul di beberapa publikasi dan bahkan
di dalam sejarah-sejarah ilmu kedokteran yang di dalamnya
Muhammad dianggap sebagai memiliki kemampuan-kemampuan
kedokteran (sebagaimana juga Al-Quran disebut-sebut sebagai
mengandung resep-resep kedokteran, suatu gagasan yang
sepenuhnya tidak tepat).[1]
Asal-Usul Kehidupan
------------------------------------------------------------
Al-Quran memberikan jawaban yang amat jelas pada pertanyaan:
Pada titik manakah kehidupan bermula? Dalam bagian ini, saya
akan mengajukan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya
dinyatakan bahwa Asal Manusia adalah (bersifat) air.
Ayat pertama di bawah ini juga menunjuk kepada pembentukan
alam semesta.
[Tulisan Arab]
"Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa lelangit dan
bumi disatukan, kemudian mereka Kami pisahkan dan Kami
menjadikan setiap yang hidup dari air. Lantas akankah mereka
tak beriman?" (QS 21:30)
Pengertian 'menghasilkan sesuatu dari sesuatu yang lain'
sama sekali tidak menimbulkan keraguan. Ungkapan tersebut
bisa juga berarti bahwa setiap sesuatu yang hidup dibuat
dari air (sebagai komponen pentingnya) atau bahwa semua
benda hidup berasal dari air. Kedua makna itu sepenuhnya
sesuai dengan data saintifik. Pada kenyataannya, kehidupan
berasal dari yang bersifat air dan air adalah komponen yang
paling penting dari seluruh sel-sel hidup. Tanpa air hidup
menjadi tidak mungkin. Jika kemungkinan kehidupan pada
planet lain diperbincangkan, maka pertanyaan yang pertama
selalu: Adakah cukup air untuk mendukung kehidupan di tempat
tersebut?
Data modern membawa kita untuk berpikir bahwa wujud hidup
yang paling tua barangkali termasuk dalam dunia
tumbuh-tumbuhan: ganggang telah ditemukan sejak periode
pra-Cambria yaitu saat dikenalinya daratan yang paling tua.
Organisme yang termasuk dalam dunia hewan barangkali muncul
sedikit lebih kemudian: mereka muncul dari laut.
Kata yang di sini diterjemahkan sebagai 'air' pada
kenyataannya adalah ma'[2] yang berarti baik air di langit
maupun air di lautan atau segala jenis cairan. Dalam arti
yang pertama air merupakan unsur yang penting bagi seluruh
kehidupan tumbuh-tumbuhan:
[Tulisan Arab]
"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. Maka
Kami[3] tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasang
tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda." (QS 20:53)
Inilah perujukan pertama kepada suatu 'pasangan'
tumbuh-tumbuhan. Nanti kita akan kembali kepada pengertian
ini.
Dalam arti keduanya yang merujuk pada segala jenis cairan,
kata tersebut dipergunakan dalam bentuk tak-tentunya untuk
menunjukkan zat yang berada pada dasar pembentukan seluruh
kehidupan hewan:
[Tulisan Arab]
"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air."
(QS 24:45)
Sebagaimana akan kita lihat nanti, kata tersebut juga bisa
diterapkan pada cairan mani.[4]
Jadi, pernyataan-pernyataan dalam Al-Quran tentang asal-usul
kehidupan, apakah itu merujuk kepada kehidupan secara umum,
unsur yang melahirkan tumbuh-tumbuhan di dalam tanah ataupun
benih hewan-hewan, seluruhnya sepenuhnya sesuai dengan data
saintifik modern. Tak satu pun mitos tentang asal-usul
kehidupan yang lazim dianggap benar oleh orang pada saat
Al-Quran diwahyukan kepada manusia disebutkan dalam teks
tersebut.
Keberlangsungan Kehidupan
------------------------------------------------------------
Al-Quran merujuk pada banyak aspek kehidupan di dalam dunia
hewan dan tetumbuhan. Saya telah menguraikan kesemuanya itu
dalam karya saya sebelum ini yang diterbitkan pada tahun
1976 (edisi bahasa Inggris, 1978). Dalam studi ini saya
ingin memusatkan perhatian pada ruang yang diberikan dalam
Al-Quran kepada tema keberlangsungan kehidupan.
Berbicara secara umum, komentar-komentar yang diberikan atas
pembiakan (reproduksi) dalam dunia tumbuh-tumbuhan bersifat
lebih panjang daripada yang merujuk kepada pembiakan dalam
dunia hewan. Meskipun demikian, ada banyak pernyataan yang
menggarap tema reproduksi manusia, sebagaimana akan kita
lihat di bawah ini.
Sudah merupakan suatu pengetahuan yang diakui bahwa ada dua
metode reproduksi di dalam dunia tumbuh-tumbuhan: yaitu yang
bersifat seksual dan aseksual (contohnya, pelipatgandaan
spora-spora atau proses menyetek yang merupakan kasus-khusus
pertumbuhan). Perlu kita perhatikan, bahwa Al-Quran merujuk
kepada bagian-bagian jantan dan betina tetumbuhan tersebut:
[Tulisan Arab]
"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. Maka
Kami tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasang
tumbuh-tumbuhan yang saling terpisah." (QS 20:53)
"Satu dari sepasang" merupakan penerjemahan dari kata zauj
(jamaknya azwaj) yang arti aslinya adalah "yang bersama-sama
dengan yang lainnya membentuk satu pasangan." Kata tersebut
bisa juga langsung diterapkan pada pasangan kawin (artinya,
manusia), sebagaimana juga pasangan sepatu.
[Tulisan Arab]
"Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-
pasangan." (QS 13:3)
Pernyataan ini berarti kemaujudan organ-organ jantan dan
betina dalam seluruh beragam spesies buah-buahan. Hal ini
sepenuhnya sesuai dengan data yang ditemukan pada kurun
waktu yang jauh lebih kemudian berkenaan dengan pembentukan
buah, karena seluruh tipe berasal dari tetumbuhan yang
memiliki organ-organ seksual (sekalipun beberapa varietas,
seperti pisang, berasal dari bunga-bungaan yang tidak
dibuahi).
Pada umumnya, reproduksi seksual di dunia hewan hanya
digarap secara ringkas dalam Al-Quran. Pengecualian dalam
hal ini adalah berkenaan dengan manusia. Karena, seperti
yang akan kita lihat kemudian dalam bab berikut ini,
pernyataan-pernyataan mengenai topik ini berjumlah banyak
dan sangat terinci.
Diarsipkan di bawah: manusia
Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan machluk yang lainya, termasuk diantaranya Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dllnya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Untuk itu marilah kita pelajari diri kita ini sebagai manusia, Siapa diri kita ini? Dari mana asalnya? Mau kemana nantinya? Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menempuh kehidupan didunia ini supaya selamat didunia dan achkirat nanti?
Sebenarnya manusia itu terdiri atas 3 unsur yaitu:
- Jasmani.
Terdiri dari Air, Kapur, Angin, Api dan Tanah. - Ruh.
Terbuat dari cahaya (NUR). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja. - Jiwa. (An Nafsun/rasa dan perasaan).
Terdiri atas 3 unsur:- Syahwat/Lawwamah (darah hitam), dipengaruhi sifat Jin, sifatnya adalah: Rakus, pemalas, Serakah, dll (kebendaan/materialis)-menjadi beban masyarakat.
- Ghodob/Ammarah ( Darah merah ), dipengaruhi oleh sifat Iblis, Sifatnya adalah: Sombong, Merusak, Angkara murka dll (Menentang)-Menjadi pengacau masyarakat.
- Natiqoh/Muthmainah (darah Putih), Dipengarui sifat malaikat, Sifatnya adalah: Bijaksana, Tenang, Berbudi luhur, Berachlak Tinggi dan Mulia- Menciptakan kedamaian dan kasih sayang.
Alat dari pada Jiwa yaitu otak, yang terdiri atas 3 bagian juga:
- Akal (timbangan) haq atau bathil
- Pikir (hitungan) Untung rugi
- Zikir (ingatan) Ingat Allah
Jadi kalau diibaratkan mobil maka jasmani ini adalah Body daripada mobil sedangkan Ruh sebagai Accu yang sifatnya hanyalah sebagai yang menghidupkan saja dan Jiwa adalah sopir atau yang mengendalikan dari pada mobilnya dimana dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan dari pada mobil itu sendiri. Jadi Disini jelaslah bahwa yang dikatakan manusia itu adalah Jiwanya dimana dialah yang bertanggung jawab atas perbuatanya.
Machluk machluk yang diciptakan Allah ( dimana ada yang menjadi musuh atau lawan manusia yaitu Iblis dan Jin kafir.)
Ada 6 machluk yaitu:
- Malaikat, Dari Nur (cahaya) menerangi/mengawasi manusia.
- Iblis, Dari Nar (Api), sifatnya merusak, merupakan musuh manusia.
- Jin, Dari asap yang beracun, sifatnya memabukan, merupakan penggoda dan juga membantu manusia.
- Tumbuhan, Hanya mempunyai naluri, berfaedah, untuk kebutuhan manusia.
- Hewan, Syahwat dan ghodob, berfaedah untuk kepentingan manusia.
- Manusia, Sebagai pengatur alam, pengurus dunia(khalifah rachmatan lil alamin).
Corak corak Manusia:
- Mu’min
- Kafir
- Munafi
Perjalanan Kehidupan Manusia:
- Alam Arwah/Ruh, Masih didalam alam suci/taqdir ketentuan
- Alam Rahim, Didalam Kandungan Ibu/Qadarditentukan
- Alam Dunia/Alam Qodho, Penyelesaian/Untuk sementara
- Alam Kubur/Alam Barzah, Dalam tahanan alam Kubur/prefentif
- Alam Mizan, Timbangan Alam dibangkitkanya kembali Manusia
- Yaumil Ma’lum ( Hari Pengumuman/Keputusan), Sorga bagi yang beramal baik; Neraka bagi yang beramal buruk
Diarsipkan di bawah: manusia
PENGENALANSemenjak zaman silam, jantung telah dianggap sebagai pusat kewujupan manusia. Segala niat kebaikan dan pemikiran dianggap berasal daripada jantung. Dari peradapan Mesir purba sehingga kepada peradapan kaum Aaztec, jantung telah dianggap organ terpenting dan pusat kebajikan. Menurut buku kematian Mesir purba, jantung simati akan ditimbang pada neraca keadilan. Mereka yang mempunyai kebajikan yang setara atau lebih berat akan dibenarkan menikmati kehidupan abadi. Berasaskan andaian ini, jantung merupakan satu-satunya organ dalaman yang dibiarkan berada di dalam tubuh mummi Mesir purba.
Kaum Aztec pula percayakan bahawa sekiranya mereka tidak menyembahkan jantung manusia kepada dewa Huitzilopochtli, matahari tidak akan muncul dan dunia akan musnah. Di atas sebab tersebut kaum Aztec pernah mengorbankan seramai 80,400 orang mangsa sebagai persembahan perasmian Kuil Agung Tenochtitlan pada tahun 1487. Upacara pengorbanan manusia yang dilakukan serentak berempat dilakukan secara berterusan, daripada matahari terbit sehingga matahari terbenam, selama empat hari tanpa berhenti.Ibnu Sina ( – 1037 Masehi) merupakan pakar sains Islam agung yang telah mengkaji jantung secara saintifik dan mengarang buku panduan mengenai jantung yang digunakan sebagai rujukan oleh orang-orang eropah selama enam ratus tahun sebelum kajian semula oleh William Harvy (1578-1657). William Harvy telah belajar mengenai anatomi manusia di Universiti Padua di Itali. Dia menetap di Landon pada 1603 dan akhirnya menjadi doktor peribadi Raja King Charles I. Pada tahun 1628, William Harvy menulis mengenai peredaran darah dalam 17 bab buku “Exercitation Anatomica de Motu Cordis et Sanguinis in Animalibus” (Mengenai Pergerakan jantung dan Darah dalam Haiwan.) yang bertentangan dengan apa yang diterima ketika itu semenjak 1,400 tahun dahulu.
Daripada segi sains, jantung adalah satu organ bersaiz penumbuk yang bertugas untuk mengepam darah beroksijen ke seluruh tubuh untuk kegunaan semua sel badan. Jantung akan mulai berdegup ketika manusia masih dalam kandungan, dan akan tidak akan berhenti sehingga manusia meninggal dunia. Malah jantung manusia dapat dipindahkan daripada mereka yang baru meninggal kepada pesakit jantung, untuk membolehkan pesakit jantung untuk terus hidup sihat. Teknik ini yang diperkenalkan oleh Christiaan Barnard yang melakukan pemindahan jantung pertama pada tahun 1967. Dia meninggal pada tahun 1 September 2001 akibat serangan lelah (asthma)
GAMBARAN JANTUNG
Jantung terdiri dari serabut-serabut otot khusus yang bekerja secara automatik dan tetap. Selain itu masih terdapat juga sistem saraf yang mengatur irama denyutan jantung. Dengan setiap denyutan jantung, darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh dan darah yang kurang oksigen ke paru-paru untuk melakukan pertukaran gas. Dianggarkan bahawa 10,000 liter darah mengalir melalui aorta dan mengelilingi tubuh manusia setiap hari. Terdapat berjuta-juta saluran rerambut darah yang membekalkan oksijen keseluruh tubuh manusia. Jika semua saluran rerambut darah disambungkan, ia mampu melingkari dunia sebanyak dua kali.
BENTUK JANTUNG
Jantung manusia terbahagi kepada 4 ruang yang dipanggil atrium kiri, atrium kanan, ventrikel kiri dan ventrikel kanan. Terdapat sistem injap yang menyambungkan antara ruangan yang berlainan.
Ruangan atrium jantung adalah lebih nipis dan kecil dari segi isipadunya berbanding ventrikel. Otot kardium, yang berdenyut secara automatik, membentuk dinding jantung. Sejenis membran tahan lasak yang dikenali sebagai perikardium menyelaputi seluruh jantung. Injap berfungsi membenarkan pengaliran darah sehala iaitu tidak berbalik.

SISTEM INJAP DALAM JANTUNG.
-
-
- Injap sabit terletak dipangkal arteri pulmonari dan aorta menentukan darah yang keluar dari jantung tidak mengalir balik.
- Injap trikuspid terletak di antara atrium kanan dengan ventrikel kanan menentukan darah yang mengalir masuk ke dalam ventrikel kanan tidak mengalir balik ke atrium kanan. Ianya terdiri daripada tiga kelopak.
- Injap bikuspid (injap mitra) terletak di antara atrium kiri dengan ventrikel kiri menghalang pengaliran balik darah dari ventrikel kiri ke atrium kiri.
ALIRAN PEREDARAN DARAH DALAM JANTUNG1. Darah dari semua bahagian badan mengalir masuk ke atrium kanan melalui vena kava apabila otot jantung berehat. Vena kava anterior membawa balik darah tanpa oksigen dari kepala dan anggota hadapan ke jantung. Vena kava posterior pula membawa balik darah tanpa oksigen dari anggota bawah dan organ badan lain.
2. Darah tanpa oksigen memenuhi atrium kanan.
-

3. Ventrikel kanan kemudiannya mengecut dan darah dipaksa keluar melalui arteri pulmonari ke peparu. Pada masa yang sama, injap trikuspid akan tertutup untuk menghalang darah daripada mengalir balik ke atrium kanan. Di arteri pulmonari, injap sabit akan tertutup untuk menghalang darah daripada mengalir balik ke ventrikel kanan.
4. Gas karbon dioksida dalam darah akan diganti dengan gas oksijen dalam paru-paru. Darah beroksigen dari peparu dibawa balik ke atrium kiri melalui vena pulmonari. Darah beroksigen memenuhi atrium kiri dan apabila atrium kiri mengecut, darah mengalir masuk ke ventrikel kiri.
5. Darah beroksigen akan ditolak masuk ke aorta. Pada masa yang sama, injap bikuspid (mitra) akan tertutup untuk mengelakkan darah daripada mengalir balik ke atrium kiri.Injap sabit di pangkal aorta akan tertutup untuk menghalang darah dalam aorta mengalir balik ke dalam ventrikel kiri apabila ventrikel itu mengendur.6. Pembuluh darah yang keluar dari ventrikel kiri disebut Aorta, yang mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Sedangkan yang keluar dari ventrikel kanan disebut Arteri Pulmonalis yang membawa darah ke paru untuk menukarkan karbon dioksida dengan oksigen. Pembuluh darah yang membawa darah masuk ke Atrium kiri disebut Vena Pulmonal dari paru-paru dan yang masuk ke Atrium kanan disebut Vena Cava membawa darah tanpa oksijen dari seluruh tubuh.
Sebahagian darah yang keluar dari aorta akan membekalkan oksijen ke jantung dan dikenal dengan nama Arteri Koronaria. Pembuluh darah inilah yang sering mengalami gangguan pada penyakit jantung koroner. Pengimbasan jantung menggunakan Pengimbas Tomografi Berkomputer akan dilakukan untuk mengesan masalah ini.
SERANGAN PENYAKIT JANTUNG
Sekiranya terdapat lapisan lemak terbentuk dalam saluran darah, jantung terpaksa mengepam darah dengan lebih kuat. Ini menyebabkan tekanan tinggi pada salur darah yang dikenali sebagai darah tinggi. Ini adalah merbahaya kerana pembuluh darah dibahagian otak sangat halus. Sekiranya pembuluh darah di otak pecah, ia menyebabkan angin ahmar (stroke).
Serangan sakit jantung mula digambarkan dengan tepat pada 1912. Penyakit jantung digambarkan sebagai rasa kesakitan yang amat sangat di bahagian dada yang berterusan sehingga setengah jam, menjalar kearah tangan kiri dan rahang. Sukar bernafas dan perasaan takut yang keterlaluan. Sebab sebenar rasa kesakitan ini adalah disebabkan kematian sebahagian otot jantung yang disebabkan oleh salur darah dibahagian tersebut tersumbat. Lebih besar salur darah yang tersumbat, lebih merbahaya serangan jantung tersebut.
Saluran darah tersebut dikatakan sebagai kitaran darah ketiga oleh Harvey, di mana jantung membekalkan dirinya sendiri dengan darah beroksijen. Banyak ubat telah diperkenalkan untuk merawat penyakit jantung. Antaranya adalah Digitalis, kulit cinchona, acetylsalicylic, nitroglycerinr, diuretic, betablockers, clcium antagonists, fibrinolytica, angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACE inhibitors), dan angiotensin antagonists.
Sungguhpun pelbagai rawatan telah dimajukan, adalah lebih baik bagi kita mengamalkan cara hidup yang sihat daripada merawat setelah mendapat penyakit. Mengelak penyakit adalah lebih baik daripada mengubat. Oleh itu pastikan kita mengamalkan permakanan yang mengandungi tahap kalesterol yang rendah, seperti menggunakan minyak masak kelapa sawit dan mengelakkan makanan yang bersantan. Selain itu makanan yang banyak serat juga mampu memerangkap kalesterol sebelum ia dapat diserap kedalam badan, sekaligus dapat mengurangkan penghadaman kalesterol oleh badan kita. Makanan berkhasiat, hidup sehat.