Liffham’s Weblog


Jatuh Cinta Pada Alquran
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Hikmah:

Diriwayatkan bahwa Abdullah ibn Mas’ud RA melewati wilayah Kufah. Di tengah perjalanan, sahabat Nabi Muhamamd SAW itu melihat beberapa orang pemuda yang sedang duduk-duduk dan bermabuk-mabukan. Di antara mereka adalah Zadzan al-Kindi (seorang artis) yang mampu memainkan alat musik dan melantunkan lagu-lagu. Suaranya sangat merdu dan syahdu


Abdullah ibn Mas’ud tertegun. Sambil melewati sekumpulan pemuda itu, Abdullah berkata, ”Alangkah indahnya suara itu seandainya dipergunakan untuk membaca Alquran.”


Tak dinyana, perkataan Abdullah itu didengar Zadzan. Ia pun berdiri dan mengambil sebatang kayu lalu dipukulkannya ke bumi kuat-kuat sehingga batang kayu itu patah. Setelah itu, ia segera menemui Abdullah ibn Mas’ud sambil menangis. Maka, Abdullah pun merangkulnya dan keduanya sama-sama menangis.
”Aku pantas menangis di hadapan orang yang dicintai Allah,” kata Abdullah kepada Zadzan. Sejak peristiwa itu, Zadzan al-Kindi memutuskan berguru pada Abdullah untuk mempelajari Alquran. Di akhir hayatnya, Zadzan yang tergolong artis itu termasuk seorang tabiin yang banyak meriwayatkan hadis Nabi Muhammad dari Abdullah ibn Mas’ud.

Demikian sepenggal kisah Zadzan al-Kindi sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisy dalam Mukhtasharu Kitab al-Tawabin. Semoga bulan Ramadhan, bulan diturunkannya kitab suci Alquran, kita bisa menyambutnya dengan hati dan pikiran suci, agar meraih Lailatul Qadar, malam nan agung yang sanggup menerangi jalan hidup kita. Kita mohon perlindungan pada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang mengunci pintu hatinya dari kehadiran cahaya Illahi. ”Apakah mereka tidak memerhatikan Alquran, ataukah hati mereka telah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu, jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS Muhammad [47], ayat 24-25).

Orang yang mengunci atau menutup hatinya adalah pangkal dari kufur, yang keduanya memiliki makna sama, yaitu mereka yang menutup dan berpaling dari cahaya kebenaran Illahi. Mengingat hati (qalb) memiliki sifat labil, bolak-balik, maka seorang mukmin senantiasa diajarkan untuk berta’awudh, mohon perlindungan pada Allah dari bisikan dan godaan setan. Lebih dari itu, siapa pun yang senantiasa membaca Alquran dan melafalkan ayat-ayat suci Alquran, insya Allah hati kita akan selalu tersambung untuk menerima cahaya kasih dan hidayah-Nya.

  • Tahukah Anta
  • Kalau membaca Al-quran itu akan menerangi hati dan menerangi anda di akhir hayat .




Menabung Pulsa
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Tausiyah Aa Gym:

Ada satu kata yang sangat sentral dalam Islam, yaitu takwa. Tak kurang dari 208 kali Allah SWT menyebut kata takwa dalam Alquran. Apa ciri-ciri orang bertakwa? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.


Setidaknya ada tiga ciri orang bertakwa. Pertama, ridha terhadap perintah Allah, seberat apa pun perintah tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjalankannya, tentu sesuai kemampuan, walau nafsu tidak menyukainya. Kedua, ridha terhadap larangan Allah, senikmat apa pun larangan tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjauhinya, walau nafsu sangat menyukainya. Ketiga, ridha terhadap apa pun yang Allah takdirkan kepada dirinya. Tidak berkeluh kesah, berputusa asa, serta berburuk sangka. Ridha di sini bukan berarti apatis. Ridha di sini adalah kesiapan hati menerima apa pun ketentuan Allah, serta berusaha optimal untuk mendapatkan takdir terbaik.


Saudaraku, kita tidak akan pernah mencapai derajat takwa tanpa memiliki kesungguhan untuk berproses, berlatih dan meminta kepada Allah. Namun semua itu tidak berarti jika Allah tidak memberikan kuncinya kepada kita. Apa kuncinya? Ilmu. Ya, ilmu adalah kunci pembuka pintu gerbang ketakwaan. Ilmu adalah landasan semua amal. Sangat sulit mengetahui mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang Allah, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Karena itu, salah satu tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba, menurut Rasulullah SAW adalah dikaruniainya kepahaman terhadap ilmu, terutama ilmu agama. Dengan ilmu tersebut ia bisa mengenal Allah, mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak, sehingga hidupnya lebih tertuntun.


Ketika kita bersungguh-sungguh menggapai tiga ciri ketakwaan tersebut, optimal dalam beramal dan menjauhi maksiat, serta senantiasa tawakal dengan landasan ilmu, maka Allah akan mengaruniakan kekuatan ruhiyah kepada kita. Saya mengibaratkannya dengan pulsa telepon seluler. Amal kebaikan yang kita lakukan bagaikan penambahan pulsa dan penambah kekuatan sinyal. Sedangkan amal keburukan atau maksiat adalah pengurangan pulsa dan pelemah sinyal. Semakin banyak amal saleh, semakin bertambah pula pulsa serta kekuatan sinyal. Kita pun akan semakin leluasa berkomunikasi bahkan bisa mentransfer pulsa kepada orang yang membutuhkan. Sebaliknya, semakin banyak maksiat, semakin defisit pulsa kita. Akibatnya, semakin sulit kita berkomunikasi.


Yang menarik, ketika kekuatan ruhiyah (pulsa) kita bertambah, Allah Azza wa Jalla pun akan mengaruniakan aneka bonus menarik. Setidaknya berupa lima hal. [1] Allah akan memasukkan ketenangan serta kedamaian ke dalam hati kita. Resah gelisah dan kesempitan hidup akan dijauhkan dari kita. [2] Kita akan lebih terpelihara dari berbuat maksiat. Orang yang memiliki kekuatan ruhiyah, memiliki rek yang pakem dari berbuat maksiat sekecil apa pun. Setan pun tidak akan mempu menggelincirkannya. [3] Kehadirannya membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.


Tingkah lakunya membawa kebaikan. Ucapannya sedikit, namun powerfull, menggugah dan mengubah. [4] Allah memberinya kemudahan dalam beramal. Orang yang kuat ruhiyahnya memiliki energi yang sangat besar dalam beramal saleh. Apa yang disukai Allah akan ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Ibadah-ibadah wajibnya senantiasa ia hiasi dengan ibadah-ibadah sunnah. Ia pun kecewa berat jika tertinggal dalam berbuat taat. [5] Doanya mustajab. Sangat wajar jika doa-doanya diijabah, sebab ia memiliki pulsa berlimpah serta sinyal yang kuat, sehingga kontaknya kepada Allah bebas hambatan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang bertakwa, yang dikaruniai pemahaman agama serta kekuatan ruhiyah yang mantap. Amin.
( KH Abdullah Gymnastiar )
  • Tahukah Anta :
  • Menabung amal sejak dini akan membawa kita ketentraman di akhir hayat .





Cahaya Kalbu
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Assalamu’alaikum Wwb.

Saudaraku fillah,
Lihatlah detik kian berlalu, hari-hari berganti siang dan malam ,matahari terus bersinar tiada bosan dan bumi pun berputar pada porosnya tiada henti, bulan dan bintang tak jemu menghiasi keindahan malam hari, semua itu berjalan atas ketentuan dari ilahi dan akan terus berjalan sampai batas waktu yang ditentukan-Nya.

Saudaraku yang kucintai,
Beranjak dari kehidupan ini, manusia lahir dan tumbuh berkembang, hidup kemudian mati sesuai kodrat Allah yang Maha Kuasa, yang kemudian menjadi catatan sejarah yang kadangpun manusia tiada belajar dari sejarah itu. Berapa banyak manusia yang menutup lembaran kehidupannya dengan sia-sia dan tiada guna di akhirat, berapa banyak pula kisah-kisah yang disodorkan kepada kita melalui kalam-Nya yang mulia, terkadang pun kita sebagai manusia lengah akan hal itu pula.
Kita sebagai khairu ummatin yang dilahirkan ke atas bumi, sebagai ummatun wahidah, sebagai penyeru ‘amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai mukmin yang mengharap keridhaan-Nya agar bisa memperoleh jannatunna’im, harus menyadari akan makna, hakikat, ibrah dari kehidupan yang singkat ini. Mukmin yang sejati, merasai hidup ini adalah perjuangan, penuh halangan dan rintangan, tetapi ia selalu tabah menghadapinya, ujian yang ia rasai hanyalah ia anggap nikmat dari-Nya bukan azab.

Saudaraku,
Kadangkala kita lengah akan hidup yang kita jalani, kadangkala tak berada di jalan yang lurus, sifat-sifat syaithani telah merusaki niatan kita, melemahkan azzam dan membelokkannya dari jalan yang lurus. Rasa iri, riya, dengki dan hasad telah menutupi hati kita dari kebersihannya untuk berjuang di jalan-Nya.
Semakin kotor hati kita, semakin pula kusam dan pekat hati kita, kegelapan yang ada menyertai. Dan cahaya ilahi pun sirna oleh kehitamannya. Nur itu yang menunjukki dan membimbing kita ke jalan lurus, sirna oleh kotornya hati kita.
Jika dahulu cahya itu menerangi kalbu kita, sehingga kita selalu tersenyum tatkala bertemu wajah dengan saudara seiman, tetapi lihatlah sekarang, cahaya yang sirna telah membuat hati kita hasad, bertemu saudarapun hanya cibiran
wajah yang terlihat.

Saudaraku karena Allah,
Jika cahaya itu juga menerangi kalbu kita, sehingga senantiasa kita rajin melaksanakan qiyamullail dan terasa nikmat tatkala kita bermunajah di malam yang sepi, sirnanya nur di hati membuat kita enggan melaksanakannya lagi
bahkan kita merasa berat. Kita merasa sudah melaksanakan kewajiban 5 waktu, walaupun telat, sunnah tak perlu kita lakukan lagi. Masya Allah.
Kotornya hati telah membuat malas untuk beribadah, untuk tilawah, untuk shaum sunnah yang selalu di anjurkan junjungan kita, Rasullah s.a.w. Do’a iftitah (pembuka) di dalam sholat kita, inna sholati wannusuki wa mahyaya
wamamaati lillahi rabbil ‘alamin (…sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam..) tak pernah terealisasi dalam hidup kita. Kita sering melanggar, melawan bahkan lupa mengingati-Nya.
Tapi kita tak mau disebut orang yang durhaka, munafik kepadaNya, lalu kita ini apa ? menyatakan janji tapi tak pernah menepati ?

Saudaraku,
Sirnanya cahaya di hati itu pula telah membuat kita sering melawan dan membangkang
kepada ibu, ayah kita. Mereka yang selama ini mendidik dan membimbing kita menjadi anak yang berguna, kini melawan. Kuasa apa kita ini, mereka kini semakin tiada berdaya dan lemah menghadapi perlakuan kita yang tiada benar di hadapan mereka. Ibu kita sering menangis, ayah kita semakin murung. Mereka sering bertanya dalam hati, anak yang telah dikandung selama -+ 9 bulan, kini tiada guna, anak yang telah disusui selama -+ 2 tahun kini membuang habis kasih sayang yang selama ini telah diberikannya.

Wahai saudaraku,
sirnanya cahaya telah membuat dan menjadikan kita seperti itu.

Saudaraku yang kucintai karena Allah,
Hari ini, marilah kita bertaubat, kembali kepada-Nya dan memohon ampun atas segala dosa dan kekotoran hati kita, mohon maaflah kepada ayah dan ibu kita, nyatakan kita cinta dan sayang mereka. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri.
Semoga jannatunna’im, haruman Raihan dan manisnya telaga salsabila kelak akan kita peroleh. amin. Hadiyanallah wa iyyakum ajmain. Afwan.

Wassalamu’alaikum Wwb.

Oleh .ridwan nawawi .



Mengikis Kesombongan
Januari 19, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: tausiyah

Aa Gym Tausiyah Aa Gym

 Sahabat, merasa diri besar atau sombong adalah penyakit hati yang sangat membahayakan. Kita harus berhati-hati dengan penyakit ini. Karena sombong, setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk Allah selamanya.


Rosulallah SAW. Bersabda, ” Tidak akan masuk surga siapa yang didalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu” (HR. Muslim)

Allah benar-benar mengharamkan surga bagi orang-orang sombong. Sombong atau takabur hanya layak bagi allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Mahluk hanya sekedar menerima kemurahan dari-Nya.

Penyakit sombong bagaikan bau busuk yang sulit untuk disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat dan dirasakan.

Perhatikan penampilan orang sombong. Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan napas, senyum sinis, tutur kata, nada suara, bahkan senandunya pun benar-benar mununjukan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukan orang yang buruk perangainya.

Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap sombong, jika seluruh kabaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah kepadanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang dapat disombongkan. Atau kalau Allah berkehendak, dia bisa terlahir dengan otak minim. Apalagi yang bisa disombongkan? Kita begitu rendah dan lemah dihadapan allah.

Maka kita harus hati-hati mengahadapi penyakit hati ini. Langkah hati-hati ini bisa diawali dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rosulullah SAW. Bersabda, ”Sombong Itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” (HR. Muslim). Jika dalam hati kita ada satu atau kedua-duanya, maka kita akan masuk ke dalam deretan orang-orang sombong.

Bagaimana cara menghindari dari sikap sombong?

  • Pertama, mengetahui dan memahami ilmunya; apa dan bagaimana sombong itu, serta bahaya yang ditimbulkanya. Sadarilah, sifat sombong tidak disukai manusia, diakhirat mendapat siksa.

  • Kedua, menyadari kelemahan dan keterbatasan diri sebagai manusia.

  • Ketiga, berlatih untuk berlapang dada menerima kebenaran dari siapa pun.

  • Keempat, Berlatih untuk rendah hati dan tidak memandang rendah orang lain. Dihapan Allah semua orang sama, yang membedakan hanya ketakwaan.

  • Kelima, berdoalah agar kita dijauhkan dari kesombongan.

Wallahu a’lam. KH. Abdullah Gymnastiar (Copyright 2007, CyberMQ
 Tahukah Anta :
* Kesombongan itu akan membawa kita kejurang kehinaan *