Liffham’s Weblog


SUARA YANG DIDENGAR MAYAT ….:
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya.

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Ketika Roh Meninggalkan Jasad…
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara

Ketika Mayat Siap Dikafan…
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”

Ketika Mayat Diusung….
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayat Siap Dishalatkan…. Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat….
Terdengar Suara Memekik Dari Langit,
“Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan…
Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian….
Allah Berkata Kepadanya, “Wahai Hamba-Ku….. Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,…. Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku

Anda Ingin Beramal Shaleh…?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal…



Sepenggal pesan dari alam kubur
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Assalaamu �alaikum, adikku… Untuk kesekian kalinya, surat kakakmu nyembul di sela tumpukan kertas-kertasmu. Nyelip di antara buku, kitab, majalah, tabloid, koran, dan seabrek kliping- klipingmu. Aku nggak kaget bila risalahku ini kau tempatkan di rak nomor 13 dan mendapat giliran baca yang ke-13 pula. Aku ngerti, pesan- pesanku yang asal-tulis semacam ini nggak pantas kauistimewakan… O ya, mumpung inget aku mo tanya. Bacaan apa sih yang tertata paling rapi di rak nomor satumu sekarang? Bolehkah kuintip? Dikit aja?

Adikku… aku nggak usah ngintip deh. Aku kuatir kau ngerasa privasimu terganggu, lalu kau jadi males bersaudara denganku. Risiko ini terlalu berat. Jadi, gantinya, kudoaian aja ya: Moga-moga tiap kali kau ngerasa gembira, kau noleh ke surat-surat dari-Nya. Semoga tiap kali kau ngerasa sedih, kau berpaling ke bacaan yang sama. Mudah-mudahan, entah suka entah duka kaurasa, selalu kaubaca surat-surat spesialmu itu dengan lidah basahmu dan bibir mungilmu serta dengan hati beningmu. Yach, semoga dalam tidurmu pun kau tetap sering bermimpi �surat-suratan’ dengan Dia, Sang Pencipta. Aamiiin…. Eh, kalimat- kalimat indah yang kau muliakan di deretan terdepan rak nomor satu itu masih surat-surat-Nya �kan? Bukan rajutan kata-kata si dia yang tiada hari tanpa ngerayu kamu �kan?

Ups… Beginilah kakakmu, Dik. Udah bawaan �kali, suka nanya-nanya. Bukan aku mo nginterogasi kamu lho. Buat apa? Bukankah yang sungguh- sungguh mampu memeriksa kita masing-masing secara cermat itu malaikat Munkar dan Nakir di �malam pertama’ alam kubur kita kelak?

Astaghfirullaah… mikirin alam kubur ngebikin aku bergidik. Bukan takut ama segala macam hantu yang kata orang sama dengan syetan. Masak sih, kita lebih takut ama iblis ketimbang ama Tuhan?… Aku sih lebih ngeri gimana ngadepin pertanyaan sepasang malaikat penanya. Semalam aku sampe kurang nyenyak tidur, ngimpiin satu jenis aja pertanyaan mereka. (Belum lagi jenis pertanyaan lain. Aduuuh…)

Pertanyaan pertama meluncur dari mereka: �Bacaan apa yang paling kausukai, hai manusia yang sendirian di liang lahat!�

�Al-Qur’an!�

Begitu jawabku, Dik… dengan sikap polos seolah-olah sedang ta’aruf dengan si dia yang kutaksir. Tapi, sesuaikah jawabanku dengan kenyataan?… Sepasang makhluk gaib di alam kubur itu kelak nggak bakalan dapat kubohongi. Di �kantong baju’ Munkar-Nakir itu tersimpan film video, rekaman seluruh aspek kehidupanku di dunia ini, lahir dan batin. Tiada lagi rahasia hati.

Mulut kita pun tidak lagi bisa kita perintahkan untuk berdusta. Jika kita hobi ngebaca trend kemajuan zaman, bacaan porno, berita kriminalitas, olahraga, tabloid gosip, atau pun bacaan lain dengan tingkat keasyikan yang mengungguli kekhusyukan kita dalam menelaah surat-surat-Nya, maka jangan-jangan jawaban yang akan terlontar dari mulut kita kelak akan sesuai dengan hobi kita itu, Dik.

�Untuk apa kaubaca Al-Qur’an, hai manusia yang hobi baca-baca?� tanya Munkar-Nakir hentikan lamunanku… Wah, makin sukar aja, ya, pertanyaannya.

Lalu aku menjawab … hmmm … Sori, Dik. Aku lupa. (Jangan-jangan udah mulai pikun nih.) Yang kuingat, seusai itu Munkar-Nakir berkata keras, setengah membentak:

�Hai manusia! Kami mau tahu bagaimana engkau membaca Al-Qur’an. Bacalah!�

Dengan rada gemeter aku gerakin lidah dan bibir: �A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. ….�

�Bacalah!� sela Munkar-Nakir.

�Lho lho lho… Bukankah aku sedang membaca Al-Qur’an? Kenapa tetap disuruh baca? Ada apa nih? Ngajak bercanda, ya?�

�Tidak! Bacalah dengan nama-nama Tuhanmu! Pantulkanlah sifat-sifat Tuhanmu selaku wakil-Nya di dunia. Pantulkanlah di setiap degup jantungmu, setiap tetes keringatmu, setiap embus napasmu… lebih- lebih saat dan usai kaubaca surat-Nya! Kau tahu, Dia itu Sang Pengasih. Lantas, seberapa kasih dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Penyayang. Tapi, seberapa sayang dirimu kepada makhluk-Nya? Dia itu Sang Kreator; seberapa kreatif engkau mewakili Dia di dunia? …,� tukas Munkar-Nakir.

Kyaaa… dapet soal kok ya sulit-sulit. Mati aku! (Loh… kok mati lagi? Di alam barzah, kita udah game-over �kan?)

Tiba-tiba suara menggelegar menusuk lubang telingaku: �BACALAH! Artikelku dimuat lagi di EraMuslim!� (Haaah?!) Rupanya sebuah teriakan asing bernada riang bangunkan aku dari mimpi yang aneh. Yang lebih aneh, suara asing ini ternyata keluar dari mulutku sendiri!

Akhirnya, tiada lagi kata-kata yang kulontarkan selain memuji Sang Pencipta kehidupan. �Alhamdu lillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur. (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya lah tempat kembali.)� (HR Bukhari)***

(Aisha Chuang,ac4×3@yahoo.com,Penulis buku Manajemen Cinta �Musim Dingin’: Ada ukhuwah abang disayang, tak ada ukhuwah abang ditendang (Surakarta: Bunda Yurida, November 2003)

==========
Penulis – Aisha Chuang,ac4×3@yahoo.com
Sumber �- www.eramuslim.com



Kembalikan Cintaku
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Ya Rabb maafkan daku kalau cintaku sempat memudar
Ampuni daku kalau cintaku sempat surut, sempat minipis
terkikis oleh nuansa kebebasan, sekulersime, liberalisme
materialisme dan langkanya nuansa Islami.

Aku bagai sebuah lilin terbakar oleh apinya sendiri, kedasar,
alas kakiku terlepas hingga begitu mudahnya aku tergelincir
basyirah dan naluri tauhidku luruh terdismantel
tatkala kita jadi minoritas disuatu negeri.

Hingga suatu hari kami terlempar di keterjalannya karang
hingga kami terhempas oleh gemuruh gelegarnya gedung
oleh sebuah rekayasa teknologi yang biasnya kami dapati
hingga kami, aku, kita terlindas oleh roda roda kenistaan.

***

Dulu kami mencoba menata misi Muhibbah. Jalanan kami telusuri
mulai dari Dover, Belgia, Humberg, Austria, Croatia dan berakhir
di Mostar di Timur Eropa, sekedar menebar rasa cinta dan empati
untuk saudara kami yang terkapar tak berdaya.

Lanjut kuarungi bahari luas ke gugusan pulau-pulau seribu.
Kutelusuri lorong lorong gelap pengap, diiringi bau anyir
lalu ke dibukit-bukit, desa-desa dan kota-kota
hingga tiba dibatas antara dua komunitas
bersama unggunan karung karung berisi pasir
dan moncong senjata siap menyembur setiap saat.
Disana…kutemui pemilik piala hati janda-janda syuhada
bersama ribuan yatim terlantar yang duka laranya
diredam oleh media untuk dan atas nama stabilitas negeri.
Yang Izzah Islam mereka punah diinjak dan dicabik
oleh sebuah agenda keji durjana tak terperikan
yang konon diatas namakan kecemburun sosial
hingga dua komunitas berseteru saling memburu nyawa
Padahal politik kejilah memoles semua agenda ini.

Semua ini telah membuat kami terpana, bangkit dan tergugah
akan tragedi dan nista akan dosa yang lalai dan terlena
oleh dan atas nama toleran, kerukunan dan silodaritas
hingga menyisakan demarkasi dan batas dari dua komunitas
dari tiada, kini ada.

***

Dibelahan barat Engkau telah tunjukan kebesaranMu
dengan meluluh lantakan lewat gempa dahsyat, seiring
dengan Tsunami-Mu disuatu Dhuha dalam kurun satu jam.
Kau tunjukan murkaMu sekaligus cintaMu untukku, kami
yang lalai, terlena dan larut oleh fatamorgana duniya
akan keserakahan, kedzaliman selama setengah abad.

Darinya terlahir rasa cinta ukhuwah dan empati kami
untuk menyampaikan peduli yang selama ini kami peram
membiarkan jerit tangis dan duka lara mereka.
Ya Rabbb ampunilah kami.

” Maka dengan nikmatNya kamu menjadi bersaudara “
(Al-Imron :103)

***

Dari semua kemelut dan tragedi dijagat raya ini membuatku tersadar,
Lalu kubertandang kesetiap sudut sudut hati derita para korban

Disana….kutemukan Cintaku, disana kutemukan cinta hakiki
yang sempat menipis dan pudar, disana kutemukan kebesarnaMu
Hai Pemilik Cinta… kembalikan cintaku, kembalikan cintaku
sematkan kembali kedadaku, semaikan kembali ke qalbuku
semi-kan kembali ke lubuk lahan hatiku.

***

Kala kudengar namamu ya Kekasih, denyut nadiku berlari,
Kala kusebut namaMu seolah tulang sekujur tubuh luluh
bersit cinta itu membias pada relung lekuk hatiku.

Lalu dimalam kelam temaram, kala kurebahkan tubuhku
dengan lembut syahdu kesebut namaMu, kubisikan penuh mesra
Kuberjanji ku ta’kan menduakan Engkau dengan selainnya
Engkau yang Esa, Engkau yang Maha Rahim dan Karim
Ya Rabb kuserahkan semua hatiku, kaffah dan totalitas.

“Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah dan selamatnya
kaum Muslim dari lidah dan tanganmu”

London, 30 Juni 2005

al_shahida@yahoo.com



AIRMATA RASULULLAH SAW…
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin…

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang meng



7 Pintu (masuk) Neraka Oleh : Anwar Nu’maniyah dan Biharul Anwar
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

“Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)” (Qs al Hijr :44)

Diriwayatkan bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saw memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:

1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.
2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.
3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).
4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.
5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.
6. Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saww maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: “Pintu ini untuk umatmu yang angkuh”; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.

Lalu, Nabi saw mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata: “Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?”

Kemudian Nabi saw mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (al-A’la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saww). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: ” Aduhai! Sementara putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai”.

Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian ia berkata: “Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata “Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?”
Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi saww menjawab, “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab”.

Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, “Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal”. Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata, “Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Nabi saww menjawab, “Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.

Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi saww menangis dan meratap, “Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit”. Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini”, Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman menjawab, “Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka).

Maha adil Allah, begitu demokratisnya memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih.. antara iman & kufur, dengan tanpa ada paksaan ” laa ikrooha fiddin..”.

Akhirnya pilihan yang kita ambil, mendapatkan konsekuensi adil dari dzat yang maha adil. Jalan menuju sorga berliku nan mendaki tapi saat sampai tujuan, maka akan mendapatkan keindahan yang “tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak dapat dibayangkan oleh hati. Sedangkan jalan menuju neraka, indah mempesona..akhirnya sampai pada kondisi yang mengerikan..



Bila Aku Jatuh Cinta
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !



Do’a dikala ragu akan dirinya ….:
Januari 30, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

—————————————-
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
—————————————-

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do’a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya….:)



Onta Menjadi Hakim
Januari 26, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah

Pada zaman Rasulullah s.a.w, ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Nabi s.a.w lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan.

Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, “Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu.”

Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Nabi s.a.w, “Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini.”

Kemudian Nabi s.a.w bertanya kepada unta itu, “Hai unta, milik siapakah engkau ini ?”

Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, “Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta.”

Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu, “Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar.”

Jawab orang Muslim itu, “Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca sholawat ke atas engkau sepuluh kali.”

Rasulullah s.a.w bersabda,
“Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca sholawat untukku.”

Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula dapat melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.

Wallahu a’lam

Sumber:
1001 Kisah Teladan



Berkah Subuh
Januari 21, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah
Di antara waktu-waktu istimewa yang diciptakan Allah SWT untuk Muslim adalah saat Subuh. Di dalamnya terkandung banyak keberkahan. Begitu mulianya waktu Subuh, Rasulullah SAW secara khusus berdoa. ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW mengungkapkan, bila umatnya bangun dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka Allah SWT akan melindunginya seharian penuh. Seperti dikatakan Jundab bin Sufyan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminan-Nya.” (HR Muslim).


Berkah ada pada waktu pagi (albarakatu fi bukuriha), begitu ungkapan orang Arab. Benar, pagi memang memiliki banyak berkah. Salah satunya ketika berzikir pagi, yang begitu dianjurkan untuk memperoleh rahmat-Nya. ”Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS Al-Kahfi [18]: 28).
Rasulullah SAW juga menjelaskan keberkahan zikir pagi antara shalat Subuh hingga terbitnya matahari, yang ditutup dengan shalat Dhuha. ”Barangsiapa yang ikut shalat Fajar berjamaah di masjid, kemudian duduk berzikir mengingat Allah SWT sampai matahari terbit, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR Tirmidzi).


Keberkahan Subuh juga membuka pintu-pintu rezeki-Nya yang telah dihamparkan di hari itu. Sebab itu, Allah SWT menyerukan Muslim untuk menyambut rezeki-Nya dengan bersegera bangun pagi.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi, diceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW pulang dari shalat Subuh di Masjid Nabawi, beliau mendapati putrinya Siti Fatimah masih tidur-tiduran. Dengan penuh kasih sayang lantas beliau menggerakkan badan putrinya itu sembari berkata, ”Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezeki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezeki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dengan terbit matahari.”


Bersegera bangun saat Subuh, ketika suasana pagi masih tampak sunyi, banyak keberkahan yang akan dilimpahkan Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah SWT akan melindunginya seharian penuh, mengucurkan rahmat, memberi pahala yang banyak, membuka pintu-pintu rezeki, melimpahkan kesegaran pikiran dan ketenangan, dan menyehatkan badan ketika bergerak bangun tidur lalu melakukan wudhu dan melangkahkan kaki shalat Subuh berjamaah ke masjid. Oleh : Jamalullail Mahfudz




Cinta Dunia
Januari 21, 2008, 21:30
Diarsipkan di bawah: Hikmah
‘Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?’ (QS Al-An’am: 32).

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).” (HR Ahmad dan Baihaqi).


Bahayanya bila di dalam hati kita dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, berulang-ulang ditegaskan oleh Allah dan juga Rasul-Nya, dalam banyak ayat-ayat dan hadis. Sehingga, barangsiapa yang mau mengambil hikmah darinya, maka ia termasuk ke dalam golongan manusia yang beruntung. Jika tidak, maka segala macam kerugian dan malapetaka pasti akan menimpanya baik ketika di dunia, lebih-lebih nanti di alam akhirat.


Kecintaan kepada dunia yang dimaksud adalah bahwa segala fasilitas kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT, dipergunakannya semata-mata hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya saja. Sehingga, ia diperbudak dan menjadi hamba hawa nafsunya sendiri. Bahkan, hawa nafsu itu diposisikan sedemikian rupa sehingga ia ditaati seperti menaati tuhan.


Jika manusia sudah sedemikian rupa keadaannya, maka hatinya akan menjadi keras. Segala kebaikan-kebaikan sulit untuk dapat masuk ke dalam hati, karena setan sudah menguasai dan bertahta secara menyeluruh di dalam hatinya.


Imam Ghazali berkata, ”Ciri khas nafsu ialah merasa enak, lalai, santai atau malas. Dan semua ajakannya bersifat batil. Andaikan engkau mau menuruti perintahnya, engkau akan rusak. Atau lupa tidak mewaspadainya, engkau pasti hanyut dan sulit sekali menolak keinginannya. Padahal, semua itu akan mengajakmu ke neraka.” (Mukasyafatul Qulub).


Kehidupan ini, bagaimanapun lamanya, akan berakhir juga. Cepat atau lambat, suka atau tidak semua manusia akan meninggalkannya dan harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya di hadapan Allah SWT. Bila kebaikan yang ditanam, maka akan menuntun ke surga. Jika keburukan yang dikerjakan, maka akan menjerumuskannya ke neraka. Maka, sudah saatnya kita memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi kemampuan untuk memahami hakikat dunia ini, lalu dengan penuh kehati-hatian meletakkannya di tangan kita, bukan di hati.